Beritagosip.com – Selama lima bulan berturut-turut, Arab Saudi berusaha keras menghindar dari jebakan pertempuran besar antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, strategi penghindaran itu akhirnya runtuh. Pada Selasa (28/7) pagi, jet-jet tempur Saudi mengudara bersama armada pesawat Amerika Serikat, melancarkan operasi militer menuju wilayah timur Irak tempat kelompok-kelompok milisi yang loyal kepada Iran bersembunyi dan beroperasi.
Keputusan untuk ikut ambil bagian dalam aksi serangan itu merupakan titik balik bagi kerajaan yang selama puluhan tahun memprioritaskan stabilitas ekonomi dan menarik investasi global. Riyadh telah memuaskan diri dengan membangun Negeri Minyak sebagai pusat ekonomi kawasan, jauh dari keguncangan perang yang terus membayang Timur Tengah.
Namun, kesabaran Riyadh akhirnya mencapai batas ketika serangkaian serangan terus berdatangan. Dalam seminggu terakhir sebelum operasi gabungan itu dilakukan, milisi Houthi dari Yaman dan sekutu mereka di Irak yang didukung Iran memukul instalasi penting milik Saudi dengan rudal dan pesawat tanpa awak. Ledakan kesabaran itu menjadi alasan utama mengapa Riyadh akhirnya memutuskan untuk membalas dan bergabung dengan Amerika Serikat dalam perang.
Para pengamat strategis melihat keputusan Saudi dengan kekhawatiran. Tim Lister dan Nic Robertson dari CNN menekankan bahwa pertisipasi aktif Riyadh dalam konflik Iran membawa risiko substansial. Musuh-musuh Saudi bukanlah lawan konvensional yang mudah dikalahkan, melainkan kelompok-kelompok terlatih dalam seni peperangan asimetris yang sulit diprediksi. Ancaman datang tidak hanya dari Irak dan Yaman, namun juga langsung dari Iran sebagai aktor utama.
Markas Komando Pusat Militer Amerika Serikat mengumumkan operasi gabungan itu sebagai “respons berkelanjutan” terhadap gelombang serangan drone yang dipercaya diarahkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Meski serangan-serangan dari Teheran jarang mencapai target dengan akurat di wilayah Saudi, beberapa di antaranya berhasil menghantam pangkalan dan instalasi militer milik AS yang tersebar di berbagai titik di Negeri Minyak, termasuk serangan pada 18 Juli di fasilitas petrokimia Jubail yang strategis.
Pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Saudi menegaskan bahwa Riyadh tidak mencari perluasan perang, melainkan hanya merespons agresi yang ditujukan kepada diri mereka sendiri. Namun, tindakan nyata yang diambil Riyadh menunjukkan sesuatu yang berbeda dari pernyataan itu. Rupanya, kompromi sudah tidak lagi menjadi pilihan yang masuk akal bagi kepemimpinan Saudi.
Dinamika yang mengubah perhitungan Saudi sangat erat kaitannya dengan serangan-serangan konkret yang dilakukan oleh kelompok bersenjata pro Iran di wilayah Irak. Dua kali dalam durasi 48 jam—Senin dan Selasa—milisi-milisi tersebut menjalankan operasi drone yang menargetkan infrastruktur vital milik Saudi dan kota Riyadh itu sendiri. Organisasi payung yang mewakili berbagai kelompok pejuang Irak mengakui bahwa beberapa personel mereka tewas dan mengalami luka dalam pertukaran serangan tersebut.
Memori trauma pun dimainkan peran penting dalam keputusan ini. Pada 2019 lalu, serangan besar-besaran menghancurkan kilang minyak Abqaiq yang sangat penting bagi ekonomi Saudi. Operasi itu berhasil melumpuhkan hampir setengah dari kapasitas produksi minyak mentah negara itu. Kelompok Houthi mengklaim tanggung jawab, namun sumber intelijen yang berbicara kepada CNN membeberkan bahwa serangan itu kemungkinan besar dikoordinasikan dari Irak. Pada saat itu, Saudi memilih untuk tidak membalas secara militer, dan malah menunjuk Iran sebagai dalang di balik peristiwa itu.
Waktu telah berubah. Kini Saudi tidak lagi bersedia diam. Analis Mohammed Al Basha menguraikan bahwa keputusan Saudi untuk terlibat dalam pertempuran berasal dari kenyataan sederhana: semua garis merah telah dilanggar. Houthi berulang kali menembakkan peluncur rudal ke kompleks-kompleks pengilangan minyak yang tersebar di Jazan, wilayah pesisir di tepi Laut Merah. Citra satelit dan video geolokasi yang tersebar luas menunjukkan tingkat kerusakan yang sangat serius pada salah satu dari instalasi-instalasi tersebut.
Serangan sebelumnya juga mengarah ke kapal-kapal tanker Saudi yang berlayar di Laut Merah. Houthi membenarkan bahwa mereka melakukan serangan itu sebagai bagian dari strategi blokade yang mereka tetapkan terhadap Saudi. Bagi Riyadh, situasi ini menandakan eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Karena Selat Hormuz masih dalam kondisi terganggu, Saudi telah mengalihkan rute ekspor minyaknya ke Laut Merah, sehingga jalur ini menjadi sangat kritis bagi ekonomi nasional mereka.
Akar dari kebencian Houthi terhadap Saudi dapat dilacak kembali ke insiden di bandara internasional Sanaa pada 13 Juli. Tentara Irak yang dilengkapi dan didukung oleh Saudi membom bandara itu dengan tujuan mencegah pesawat Iran mendarat di kawasan tersebut. Pesawat yang dimaksud mengangkut para pemimpin Houthi yang baru saja menyelesaikan ziarah mereka untuk menghadiri acara duka cita mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Kemarahan Houthi pun meledak, dan mereka menuduh Saudi sebagai biang keladi di balik operasi militer itu.
Investasi yang telah Saudi keluarkan untuk memodernisasi kemampuan militer mereka mencapai puluhan miliar dolar. Sistem pertahanan udara canggih telah dibeli dan dipasang di seluruh wilayah strategis. Menurut Nawaf Obeid dari King’s College London yang mengkhususkan diri pada studi perang, kapabilitas angkatan udara Saudi saat ini jauh lebih unggul dibandingkan satu dekade yang lalu dalam hal kemampuan mendeteksi, melacak, dan merespons berbagai bentuk ancaman militer yang tersebar. Sistem-sistem telah diintegrasikan dengan sedemikian rupa sehingga waktu antara pendeteksian target dan eksekusi serangan menjadi jauh lebih pendek.
Pada bulan-bulan Maret dan April, Saudi giat-giatnya berinvestasi dalam teknologi penangkal drone, mengingat bahwa Iran diketahui secara luas menggunakan drone untuk menjalankan strategi perang yang tidak konvensional dan menargetkan instalasi pengilangan minyak di pantai timur Arab Saudi.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bahkan melakukan kunjungan jauh ke Riyadh untuk menawarkan solusi sistem pertahanan terintegrasi milik Ukraina, yang telah terbukti efektif dalam menghadapi senjata-senjata Rusia. Namun, meskipun ada kesediaan untuk membeli teknologi tersebut, sistem pertahanan tingkat lanjut seperti itu tidak dapat dipasang dalam waktu singkat atau semalam. Proses implementasinya membutuhkan waktu, pelatihan, dan penyesuaian yang matang.