Beritagosip.com – Menteri Luar Negeri Republik Iran, Abbas Araghchi, mengeluarkan pernyataan yang sangat kuat dengan mengklaim bahwa negara Iran telah meraih kemenangan yang signifikan dalam kedua aspek, yaitu dalam pertempuran bersenjata maupun dalam medan diplomasi internasional terhadap Amerika Serikat.
Pada sebuah acara resmi yang berlangsung pada hari Selasa tanggal 18 Agustus, Araghchi menyampaikan bahwa sejumlah menteri luar negeri dari berbagai negara telah menyampaikan kepadanya pengamatan mereka bahwa ketangguhan dan keteguhan Iran dalam berperang serta bernegosiasi di tingkat internasional telah menunjukkan performa yang luar biasa mengesankan.
Menurut laporan dari para menteri luar negeri tersebut, Iran telah “memperoleh kemenangan, baik dalam konteks perang maupun dalam konteks diplomasi dan negosiasi” ketika berhadapan dengan Amerika Serikat.
“Kami terlibat dalam pertempuran dengan menunjukkan kekuatan dan keteguhan, dan kami melakukan negosiasi juga dengan mengandalkan posisi kekuatan yang sama,” ujar Araghchi, seperti dikutip dari agensi berita Anadolu Agency.
Pada waktu yang sama, Araghchi juga menyoroti apa yang disebutnya sebagai kekalahan strategi Amerika dalam menghadapi Iran, bahkan setelah AS menggelorakan propaganda yang agresif dengan mendesak Teheran untuk menyerah secara tidak bersyarat tanpa negosiasi.
“Mereka yang sebelumnya menggembar-gemborkan dan menuntut penyerahan tanpa syarat dari Iran, tidak lama setelah pertempuran dimulai, akhirnya memohon-mohon untuk dilakukannya proses negosiasi dan dialog,” ucap Araghchi.
Menurutnya, Amerika pada akhirnya terpaksa mengalah dan berkompromi terhadap Iran dengan menerima berbagai persyaratan dan tuntutan yang telah ditetapkan oleh Teheran, setelah Teheran dengan tegas menolak proposal gencatan senjata dan terus melanjutkan operasi militer.
Pernyataan yang kuat dari Araghchi ini disampaikan sebagai respons langsung terhadap pernyataan yang dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari Senin tanggal 17 Agustus, yang menyerukan Iran untuk segera “mengibarkan bendera putih dan menyerah”. Seruan Trump disampaikan melalui wawancaranya yang eksklusif bersama saluran berita Fox News.
Pada kesempatan itu, Trump juga mengeluarkan ancaman yang jelas bahwa Amerika tidak akan ragu-ragu untuk melanjutkan operasi militer di kawasan Timur Tengah terhadap Iran hingga negara tersebut sepenuhnya dilumpuhkan dan tak berdaya. Dia menambahkan bahwa dirinya memiliki banyak waktu luang untuk mencapai tujuan ambisius ini.
“Saya tidak memiliki batasan waktu atau jadwal yang ketat. Saya tidak sedang tergesa-gesa dalam hal apapun,” ucapnya, seperti dikutip dari saluran berita Al Jazeera.
Namun demikian, kalkulasi politik domestik Trump menjadi lebih kompleks karena Amerika Serikat akan menyelenggarakan pemilihan paruh waktu pada bulan November yang akan datang. Konflik yang berkelanjutan di Iran telah menyebabkan Trump kehilangan dukungan publik secara signifikan dan merusak tingkat kepuasan politiknya di mata para pemilih.
Nota kesepahaman damai yang telah ditandatangani oleh Iran pada bulan Juni lalu juga sudah melampaui batas waktu berlakunya. Dokumen nota kesepahaman tersebut menetapkan bahwa sebuah perjanjian damai permanen harus dicapai dan diteken dalam kurun waktu 60 hari setelah penandatanganan nota kesepahaman awal, guna mengakhiri perang secara permanen dan komprehensif.