Beritagosip.com – Penelitian ilmiah terbaru memberikan penjelasan mengapa kebakaran hutan dan lahan menjadi semakin sulit untuk dikendalikan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Para ahli menyimpulkan bahwa perubahan iklim yang terjadi dalam dekade terakhir memiliki peran signifikan dalam meningkatkan frekuensi dan intensitas insiden kebakaran ekstrem.
Cuaca ekstrem yang mengakibatkan periode kekeringan berkepanjangan dinilai sebagai faktor utama yang membuat kebakaran hutan ekstrem sulit dikendalikan. Kombinasi suhu tinggi dan kelembapan rendah menciptakan kondisi ideal untuk penyebaran api dengan cepat dan luas.
Riset komprehensif berjudul “Climate change has increased the odds of extreme regional forest fire years globally” yang dilakukan oleh John T. Abatzoglou dan rekan-rekannya memberikan bukti ilmiah konkret. Penelitian ini dipublikasikan di Nature Communications pada Juli tahun lalu dan mengungkapkan data mengkhawatirkan.
Temuan utama menyatakan bahwa perubahan iklim yang diakibatkan oleh aktivitas manusia meningkatkan risiko tahun-tahun kebakaran hutan ekstrem secara global sebesar 88 hingga 152 persen pada masa kontemporer (2011-2040) dibandingkan dengan masa pra-industri (1851-1900).
Terminologi “tahun-tahun kebakaran ekstrem” dalam penelitian ini merujuk pada tahun-tahun yang mencatat jumlah area terbakar terbesar berdasarkan data dari sistem satelit Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) yang mengamati Bumi selama periode 2002-2023.
Para peneliti menemukan pola yang konsisten dalam data historis mereka. Tahun-tahun dengan kebakaran ekstrem umumnya bertepatan dengan kondisi cuaca ekstrem yang dipicu oleh Fire Weather Index (FWI) yang tinggi.
“Para peneliti menemukan pola bahwa tahun-tahun ini umumnya bertepatan dengan cuaca ekstrem yang memicu kebakaran berdasarkan Fire Weather Indeks (FWI),” dijelaskan dalam laporan penelitian.
Peningkatan cuaca ekstrem ini tercermin dalam kejadian nyata di lapangan. Sejumlah kebakaran hutan ekstrem terjadi berturut-turut di berbagai belahan dunia selama tahun-tahun yang diprediksi penelitian.
Beberapa contoh nyata meliputi kebakaran hutan di Siberia pada 2012, Australia yang berlangsung intensif pada 2019-2020, Amerika Serikat bagian barat pada 2020, Chili pada 2022-2023, hingga Kanada pada 2023.
“Beberapa di antaranya meliputi kebakaran hutan di Siberia (2012), Australia (2019-2020), Amerika Serikat bagian barat (2020), Chili (2022-2023), hingga Kanada (2023),” dicatat dalam dokumentasi peristiwa iklim ekstrem.
Hasil penelitian ini menegaskan dengan jelas bahwa perubahan iklim telah meningkatkan kemungkinan terjadinya kebakaran hutan regional yang ekstrem di seluruh dunia dengan signifikan.
Data kuantitatif menunjukkan peningkatan yang drastis dalam jumlah kebakaran ekstrem dan emisi karbon yang dihasilkan. Pada tahun-tahun kebakaran ekstrem, jumlah kebakarannya mencapai 4 hingga 5 kali lipat lebih banyak dibandingkan tahun-tahun lainnya.
“Jumlah kebakaran ekstrem serta emisi karbon yang dihasilkan pada tahun-tahun kebakaran ekstrem mengalami peningkatan yang drastis, setidaknya 4 hingga 5 kali lipat dibandingkan tahun-tahun lainnya,” disampaikan dalam kesimpulan penelitian.
Mekanisme yang mendorong kebakaran ekstrem ini ditandai dengan kombinasi faktor-faktor lingkungan tertentu. Suhu udara yang tinggi, kelembapan relatif yang rendah, dan kondisi udara yang sangat kering bekerja sama menciptakan situasi kritis.
“Perubahan iklim yang menjadi pemicu kebakaran ekstrem ini ditandai dengan kombinasi antara suhu tinggi, kelembapan rendah, dan kekeringan udara,” dijelaskan mekanisme terjadinya.
Faktor-faktor tersebut secara bersamaan mendorong terjadinya periode panjang cuaca panas dan kekeringan, yang mengakselerasi potensi pertumbuhan dan perluasan kebakaran dengan kecepatan tinggi.
Para peneliti menemukan bahwa kondisi ini semakin diperburuk oleh aktivitas manusia yang langsung merusak lingkungan. Deforestasi dan pembukaan lahan untuk keperluan pertanian komersial serta perkebunan industrial menambah beban lingkungan.
“Para peneliti menyebut kondisi ini semakin diperparah oleh aktivitas manusia seperti deforestasi dan pembukaan lahan untuk industri pertanian dan perkebunan,” diuraikan dalam analisis faktor pendorong.
Pembabatan hutan terutama terjadi di wilayah-wilayah hutan tropis seperti Indonesia, yang merupakan paru-paru dunia yang sangat penting. Degradasi hutan tropis ini membuat dampak dan durasi kebakaran hutan dan lahan menjadi semakin parah akibat luasnya kondisi kekeringan yang menjadi bahan bakar potensial.
“Pembabatan hutan utamanya terjadi di wilayah hutan tropis seperti Indonesia yang membuat dampak dan durasi karhutla semakin parah akibat meluasnya kondisi kekeringan yang menjadi bahan bakar karhutla,” ditekankan dalam konteks regional.
Temuan penelitian ini dinilai sangat krusial dan strategis untuk penyusunan kebijakan pengelolaan kebakaran di masa depan. Implikasi praktisnya sangat luas dan memerlukan perubahan paradigma dalam penanganan bencana alam ini.
Keterbatasan sumber daya penanganan seperti personel pemadam kebakaran, peralatan modern, dan anggaran yang tersedia menjadi kendala serius. Pada tahun-tahun kebakaran ekstrem ketika titik api muncul dan meluas secara bersamaan dan simultaneous, keterbatasan ini semakin terasa berat dan mengharuskan strategi pengelolaan kebakaran yang berbeda.
“Keterbatasan sumber daya pemadaman seperti personel pemadam, peralatan, dan anggaran di tahun-tahun kebakaran ekstrem akibat titik api muncul dan meluas secara bersamaan mengharuskan langkah tambahan pada strategi pengelolaan kebakaran,” disampaikan dalam rekomendasi kebijakan.
Strategi pengelolaan kebakaran hutan tidak boleh hanya berfokus pada tindakan reaktif setelah api sudah membesar dan meluas luas. Tindakan proaktif dan preventif menjadi sangat penting untuk diterapkan sejak awal.
Langkah-langkah pencegahan yang direkomendasikan mencakup pengurangan bahan bakar alami di lapangan melalui manajemen vegetasi yang lebih baik, pencegahan pemicu api akibat aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab, serta penyediaan infrastruktur perlindungan yang kokoh bagi masyarakat dan ekosistem.
“Pengelolaan karhutla disebut tidak boleh berhenti pada tindakan reaktif setelah titik api meluas, tetapi perlu juga adanya tindakan proaktif, terutama pengurangan bahan bakar alami di lapangan, pencegahan pemicu akibat aktivitas manusia, serta penyediaan infrastruktur perlindungan bagi masyarakat dan ekosistem untuk meminimalkan dampak bencana,” direkomendasikan sebagai strategi komprehensif.