Beritagosip.com – Selat Hormuz sudah tidak lumpuh, tetapi harga BBM mahal masih menekan banyak negara. Meski tensi mereda, biaya mengeluarkan minyak dari Teluk Persia justru melonjak karena jalurnya masih berbahaya.
Di Amerika Serikat, harga bensin rata-rata nasional mencapai US$4,36 per galon, setara Rp20.607 per liter (kurs Rp17.891). Data AAA menunjukkan harga itu belum pernah setinggi ini pada periode yang sama dalam setahun.
Gangguan pasokan akibat perang Iran kini meluas menjadi krisis energi. Pengemudi, sopir truk, hingga petani di berbagai negara merasakan dampaknya.
Ongkos Angkut Melonjak
UK Maritime Trade Operations melaporkan sejumlah kapal dagang terkena proyektil di selat itu dalam beberapa hari terakhir, termasuk setidaknya dua tanker minyak mentah. Data Clarksons menunjukkan sewa kapal tanker raksasa VLCC dari Teluk Persia ke China kini US$1,6 juta (Rp28,6 miliar) per hari. Tahun lalu, biayanya hanya US$65 ribu (Rp1,16 miliar).
Biaya asuransi juga naik. Mengutip The Wall Street Journal, produsen minyak kini membayar US$30 juta sampai US$40 juta (Rp536,7 miliar sampai Rp715,6 miliar) untuk sekali perjalanan pulang-pergi.
Tom Kloza, chief energy adviser Gulf Oil, menyebut biaya mengeluarkan minyak dari Teluk Persia dulu hanya US$2 (Rp35.782) per barel. Kini angkanya sekitar US$33 (Rp590,4 ribu).
Harga Fisik Lebih Mahal
Menurut S&P Global Platts, harga Dated Brent atau minyak fisik untuk pengiriman segera mencapai US$135,74 (Rp2,43 juta) per barel pada Kamis (8/10). Sementara itu, Brent futures sekitar US$100 (Rp1,79 juta). Harga fisik inilah yang akhirnya mengalir ke SPBU.
Selain itu, serangan Houthi mengganggu jalur pelayaran di Selat Bab al-Mandeb. Serangan drone Ukraina juga menghancurkan kilang di Rusia, sehingga Rusia membatasi ekspor BBM. China pun melakukan hal serupa.
Di sisi lain, stok minyak komersial dan cadangan darurat dunia menyusut tajam. Kondisi ini ikut mendorong naik harga, meski aliran minyak dari Hormuz sudah mendekati level sebelum perang.