Beritagosip.com – Kemenkes mencatat 314.124 kasus ISPA karhutla selama periode 20 Agustus hingga 20 Oktober 2026. Sebanyak 71 ribu di antaranya menimpa balita.
Data itu mencakup tujuh provinsi dan 65 kabupaten/kota terdampak. Sebanyak 243.234 kasus terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun, sementara 70.890 kasus menimpa anak di bawah lima tahun.
Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan kasus tertinggi, mencapai 82.177 kasus. Menyusul Kalimantan Selatan dengan 78.894 kasus, Kalimantan Barat 55.686 kasus, dan Riau 36.433 kasus.
Penyakit Lain Ikut Muncul
Selain ISPA, Kemenkes juga mencatat penyakit lain di wilayah terdampak karhutla, mulai pneumonia, diare akut, penyakit kulit, sakit mata, influenza like-illness, hingga heat stroke.
Kasus pneumonia tertinggi ada di Kalimantan Tengah dengan 1.400 kasus, sedangkan Kalimantan Barat mencatat diare akut tertinggi sebanyak 4.314 kasus.
Keluhan kulit seperti gatal-gatal dan kudis paling banyak muncul di Riau dengan 720 kasus. Provinsi yang sama juga melaporkan 232 kasus sakit mata dan 52 kasus heat stroke.
Untuk menangani dampak kesehatan itu, pemerintah daerah menyediakan rumah oksigen bagi masyarakat yang membutuhkan.
PM2.5 Biang Kerok
Kabut asap karhutla membawa banyak polutan, seperti PM2.5, PM10, partikel ultrahalus, karbon monoksida, ozon, nitrogen dioksida, sulfur dioksida, hingga PAHs dan sejumlah logam beracun.
Di antaranya, PM2.5 yang paling mengkhawatirkan. WHO mencatat sekitar 90 persen massa partikel dari kebakaran berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil, sehingga bisa terhirup masuk jauh ke dalam paru-paru.
PM2.5 yang mencapai bagian dalam paru-paru dapat memicu iritasi dan peradangan hingga saluran napas makin sensitif. Akibatnya, seseorang bisa mengalami batuk, tenggorokan gatal, sesak napas, atau gejala lain serupa ISPA.
Lonjakan kasus ISPA karhutla ini menegaskan urgensi perlindungan kelompok rentan, terutama balita.