Beritagosip.com – Pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) tengah mengalami perlambatan signifikan. Meski angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) belum melonjak drastis, warga AS kini menghadapi kesulitan besar dalam mendapatkan pekerjaan baru.
Kondisi ini dipicu ketidakpastian ekonomi yang ditimbulkan oleh kebijakan tarif tinggi Presiden Donald Trump. Banyak perusahaan enggan membuka lowongan baru akibat situasi yang tak menentu.
Mengutip CNN Business, Jumat (11/7/2025), data terbaru dari Departemen Tenaga Kerja AS mencatat 227.000 aplikasi pertama untuk tunjangan pengangguran selama pekan yang berakhir 5 Juli, sedikit turun dari minggu sebelumnya. Namun, klaim lanjutan—diajukan oleh mereka yang belum juga mendapat pekerjaan—naik menjadi 1,96 juta, tertinggi sejak November 2021.
Pasar Kerja Nyaris Beku
Menurut Kepala Ekonom Navy Federal Credit Union, Heather Long, pasar kerja saat ini “nyaris beku” kecuali di sektor kesehatan, pendidikan, dan penegakan hukum.
“Pencari kerja muda sulit mendapatkan pekerjaan pertama. Yang terkena PHK pun kesulitan karena perusahaan lebih hati-hati,” ujarnya.
Meski Juni mencatat 147.000 lapangan kerja baru, sebanyak 94% berasal dari sektor kesehatan dan pemerintah daerah. Ini mencerminkan penyempitan drastis kesempatan kerja di sektor swasta.
Rata-rata waktu tunggu pengangguran juga makin lama. Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan 23,3% dari pengangguran kini telah menganggur lebih dari 27 minggu, hampir enam bulan, mendekati rekor tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Efek Langsung dari Tarif dan Pembatasan
Lambatnya rekrutmen ini dipandang sebagai efek domino dari tarif tinggi, pembatasan anggaran, dan kebijakan imigrasi baru di bawah Trump. Meski data mingguan bersifat fluktuatif dan kerap direvisi, tren ini memperlihatkan tekanan nyata terhadap ekonomi domestik.
Heather Long menyimpulkan, semakin cepat ketidakpastian tarif dan arah kebijakan ekonomi AS mereda, maka makin cepat pula peluang kerja kembali terbuka bagi para pencari kerja.