Beritagosip.com Pengamat sepak bola Indonesia, Mohamad Kusnaeni, menilai banjir pemain diaspora ke Super League sebagai proses yang berlangsung secara alamiah. Ia menyebut keputusan tersebut diambil untuk memperoleh menit bermain yang semakin sulit didapat di luar negeri.
Menurut Kusnaeni, pemain diaspora Super League umumnya berasal dari klub luar negeri dengan tingkat persaingan tinggi. Kondisi tersebut membuat mereka kesulitan menembus tim utama. Perpindahan ke klub Liga Indonesia Super League menjadi opsi realistis untuk mempertahankan performa.
Sejak awal musim 2025, banjir pemain diaspora mulai terlihat di kompetisi domestik. Beberapa nama memutuskan bergabung dengan klub Indonesia, seperti Jordi Amat yang hijrah dari Johor Darul Ta’zim ke Persija Jakarta. Selain itu, Rafael Struick meninggalkan Brisbane Roar untuk memperkuat Dewa United.
Nama lain yang ikut meramaikan diaspora ke klub Indonesia ialah Jens Raven dari FC Dordrecht ke Bali United. Thom Haye dan Eliano Reijnders juga memilih Persib Bandung setelah meninggalkan klub Belanda mereka.
Pada pertengahan musim, arus pemain diaspora Super League berlanjut. Shayne Pattynama bergabung dengan Persija Jakarta, sementara Dion Markx memilih Persib Bandung. Perpindahan ini menegaskan tren yang semakin kuat.
Kusnaeni menilai keputusan tersebut berkaitan erat dengan minimnya kesempatan tampil reguler. Pemain yang terlalu lama berada di bangku cadangan berisiko mengalami penurunan kemampuan. Oleh karena itu, Liga Indonesia Super League dinilai memberi ruang bermain yang lebih terbuka.
Ia juga membedakan profil usia pemain diaspora ke klub Indonesia. Pemain yang telah melewati usia emas seperti Jordi Amat dan Thom Haye memiliki pertimbangan berbeda dibanding pemain muda seperti Jens Raven dan Mauro Zijlstra. Bagi pemain muda, Indonesia dapat menjadi batu loncatan karier.
Menurut Kusnaeni, pemain usia muda membutuhkan menit bermain untuk meningkatkan performa. Kesempatan tersebut dapat membuka jalan agar mereka kembali bersaing di Eropa atau liga lain. Banjir pemain diaspora tidak selalu berarti kemunduran, melainkan strategi pengembangan karier.
Ia mengakui muncul anggapan bahwa tren ini bertolak belakang dengan upaya pemain Indonesia menembus Eropa. Namun, setiap pemain memiliki kebutuhan perkembangan yang berbeda. Tanpa kesempatan bermain, karier sulit berkembang meski berada di liga elit.