Beritagosip.com Pasukan UNIFIL diserang di Lebanon kembali menjadi sorotan. Tiga prajurit dilaporkan terluka akibat ledakan yang terjadi di Lebanon selatan pada Jumat, 3 April.
Insiden terjadi di salah satu posisi penjaga perdamaian PBB. Juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, menyampaikan bahwa ledakan terjadi pada sore hari. Dua dari tiga prajurit UNIFIL terluka mengalami kondisi serius.
Ketiga korban segera dievakuasi ke rumah sakit. Mereka mendapatkan perawatan medis intensif. Hingga saat ini, sumber ledakan posisi UNIFIL masih belum diketahui.
Peristiwa ini menjadi insiden ketiga dalam waktu dekat. Serangan UNIFIL Lebanon selatan terjadi di tengah meningkatnya konflik Israel Hizbullah Lebanon. Situasi keamanan di wilayah tersebut terus memburuk.
UNIFIL kembali mengingatkan semua pihak terkait. Mereka diminta menjamin keselamatan pasukan penjaga perdamaian. Aktivitas militer di sekitar posisi pasukan diminta untuk dihindari.
Sebelumnya, Dewan Keamanan PBB menyampaikan kecaman atas insiden di Lebanon selatan. Sebanyak 15 negara anggota, termasuk Amerika Serikat, menyuarakan sikap yang sama. Pernyataan itu juga memuat belasungkawa bagi korban.
Tiga prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL dilaporkan tewas dalam serangan terpisah. Insiden tersebut terjadi dalam kurun waktu 24 jam di lokasi berbeda.
Serangan pertama terjadi di dekat desa Adchit Al Qusayr. Seorang prajurit gugur dalam peristiwa tersebut. Serangan kedua terjadi saat kendaraan pasukan melintas di wilayah Bani Hayyan.
Dua prajurit lainnya gugur dalam ledakan pada insiden kedua. Selain korban jiwa, beberapa personel lain juga mengalami luka. Data menunjukkan tiga orang terluka pada serangan pertama dan dua lainnya pada serangan kedua.
PBB telah memulai penyelidikan atas rangkaian insiden ini. Namun, pernyataan resmi tidak menyebutkan pihak yang bertanggung jawab. Kondisi ini menambah kompleksitas konflik Israel Hizbullah Lebanon.
Sumber keamanan PBB menyebut adanya indikasi keterlibatan tank Israel. Puing peluru ditemukan di lokasi serangan pertama. Sementara itu, ledakan pada insiden kedua diduga berasal dari ranjau.
Data PBB mencatat puluhan korban dari pasukan penjaga perdamaian. Sejak awal pembentukan, total 97 personel tewas dalam berbagai kekerasan. Mandat UNIFIL yang berperan sebagai penyangga akan berakhir pada akhir tahun ini.
Perkembangan ini mempertegas risiko tinggi yang dihadapi pasukan UNIFIL diserang di Lebanon. Ledakan posisi UNIFIL dan meningkatnya konflik menunjukkan situasi yang masih belum stabil.