Beritagosip.com Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras kepada Iran. Trump desak Iran agar segera membuka Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak global di tengah konflik AS Iran yang masih berlangsung.
Trump desak Iran dengan memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan menyerang fasilitas publik di negara tersebut. Target yang disebut meliputi pembangkit listrik dan jembatan jika akses Selat Hormuz tetap ditutup. Ancaman Trump Iran ini disampaikan melalui unggahan di media sosial miliknya, Truth Social, pada Minggu (5/4).
Dalam pernyataannya, Trump menyinggung rencana serangan dengan menyebut hari tertentu sebagai momen penghancuran infrastruktur. Ia juga menambahkan ungkapan “Alhamdulillah” saat menyampaikan kecaman terhadap Iran. Pernyataan ini langsung menjadi sorotan dalam konflik AS Iran yang semakin memanas.
Trump juga mengisyaratkan waktu pelaksanaan serangan berikutnya melalui unggahan lain. Ia menyebut waktu spesifik yang diduga merujuk pada jadwal operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran. Pernyataan tersebut memperkuat ancaman Trump Iran dalam eskalasi perang Iran AS.
Sebelumnya, Trump desak Iran dengan tuntutan serupa pada 26 Maret. Desakan tersebut terus diulang dalam beberapa kesempatan. Fokus utama tetap pada pembukaan Selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan energi dunia.
Pihak Iran merespons keras ancaman tersebut. Perwakilan Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa mengecam pernyataan Trump. Mereka menilai ancaman terhadap infrastruktur sipil melanggar hukum internasional dalam konteks konflik AS Iran.
Utusan Iran itu menegaskan bahwa komunitas internasional memiliki kewajiban untuk mencegah tindakan yang berpotensi menjadi kejahatan perang. Pernyataan tersebut mempertegas posisi Iran dalam menghadapi ancaman Trump Iran.
Selain itu, Iran menyatakan kesiapan untuk membalas setiap serangan dari Amerika Serikat maupun sekutunya, termasuk Israel. Sikap ini memperlihatkan ketegangan tinggi dalam perang Iran AS yang belum menunjukkan tanda mereda.
Di sisi lain, Trump tetap menyatakan upaya untuk membuka jalur negosiasi gencatan senjata. Meski demikian, rencana serangan terhadap fasilitas energi Iran sempat ditunda. Situasi ini menunjukkan pendekatan ganda dalam konflik AS Iran.
Iran tetap menolak membuka Selat Hormuz bagi Amerika Serikat dan sekutunya. Penolakan ini memperkuat posisi strategis Iran dalam konflik yang sedang berlangsung. Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam dinamika perang Iran AS.
Serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah berlangsung sejak 28 Februari. Operasi tersebut menyebabkan korban besar, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan ribuan warga sipil.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke Israel serta aset Amerika Serikat di kawasan Teluk. Selain itu, Iran menutup Selat Hormuz untuk menekan lawan dalam konflik AS Iran.
Penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran krisis energi global. Banyak negara mulai mengambil langkah antisipatif. Kebijakan yang diterapkan termasuk pembatasan pembelian bahan bakar dan penerapan kerja jarak jauh bagi aparatur sipil negara.
Situasi ini memperlihatkan dampak luas dari perang Iran AS terhadap stabilitas global. Selat Hormuz tetap menjadi pusat perhatian dalam konflik yang terus berkembang.