Beritagosip.com – Rencana pemakaman Ali Khamenei dilaporkan mengalami beberapa kali perubahan sebelum akhirnya dijadwalkan berlangsung pada 9 Juli 2026 di kota kelahirannya, Mashhad.
Sebelum prosesi pemakaman dilaksanakan di kompleks makam suci Imam Reza, rangkaian upacara kenegaraan dijadwalkan berlangsung di sejumlah kota besar. Agenda tersebut diawali pada 4 Juli 2026 di Grand Mosalla atau Musalla Besar Teheran.
Sebelumnya, jadwal pemakaman Ali Khamenei telah beberapa kali direvisi setelah laporan mengenai kematiannya akibat serangan yang disebut melibatkan Amerika Serikat dan Israel pada Februari lalu.
Media Iran Iran International melaporkan bahwa perubahan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terkait keamanan, ketidakpastian mengenai kehadiran tamu asing, serta masih adanya pertanyaan mengenai proses suksesi kepemimpinan.
Rencana awal yang diumumkan setelah kabar kematiannya dikonfirmasi pada 1 Maret menggambarkan prosesi tiga tahap yang melintasi Teheran, Qom, dan Mashhad sebelum pemakaman dilaksanakan di kota kelahirannya.
Sehari kemudian, setelah kabar meninggalnya sang istri, Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh, diumumkan, pihak berwenang memutuskan untuk menggelar pemakaman bersama di kompleks Makam Imam Reza, Mashhad.
Beberapa hari setelah itu, televisi pemerintah Iran mengabarkan bahwa peti jenazah Ali Khamenei akan ditempatkan di Mosalla Teheran agar masyarakat dapat memberikan penghormatan terakhir.
Namun, menjelang siang hari, siaran tersebut mengumumkan penundaan hingga malam. Tidak lama kemudian, pembaruan berikutnya menyebut upacara kembali ditunda hingga waktu yang belum ditentukan.
Televisi pemerintah juga menayangkan proses persiapan podium yang akan digunakan untuk menempatkan peti jenazah di balik kaca antipeluru selama prosesi penghormatan.
Menurut laporan tersebut, faktor keamanan menjadi salah satu alasan utama perubahan jadwal. Iran disebut menggelar upacara kenegaraan di tengah situasi konflik regional yang masih berlangsung, sementara sejumlah pejabat Israel dikabarkan menyatakan akan menargetkan siapa pun yang ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi berikutnya.
Sejumlah pejabat asing, terutama tokoh yang berafiliasi dengan Hizbullah dan Houthi, juga dilaporkan menyampaikan kekhawatiran untuk menghadiri upacara tersebut. Kekhawatiran itu disebut berkaitan dengan insiden pembunuhan pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, di Teheran saat menghadiri pemakaman mantan Presiden Ebrahim Raisi.
Laporan itu juga menyebut delegasi dari Tiongkok dan Rusia diperkirakan hadir dengan perwakilan tingkat rendah.
Selain persoalan keamanan, pemerintah Iran dikabarkan berupaya menghadirkan jumlah pelayat yang besar. Televisi pemerintah menyebut pihak berwenang mengatur transportasi pendukung dari berbagai daerah untuk mewujudkan apa yang mereka sebut sebagai “pemakaman yang dihadiri oleh jutaan orang.”
Para pemimpin Iran disebut ingin menghadirkan suasana yang menyerupai pemakaman Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989. Saat itu, pemerintah mengklaim sekitar 10 juta pelayat hadir, meski sejumlah jurnalis asing memperkirakan jumlahnya berada di kisaran dua hingga empat juta orang.
Mobilisasi massa dari Teheran, Qom, dan Mashhad untuk mengikuti prosesi lintas kota juga dinilai menjadi tantangan tersendiri.
Menurut laporan tersebut, para pendukung Ali Khamenei, termasuk kelompok yang mendukung putranya sebagai calon penerus, menginginkan demonstrasi loyalitas dalam skala besar menjelang pengumuman pemimpin baru. Beberapa pejabat dan analis menilai upaya menghadirkan prosesi yang tersusun rapi menjadi salah satu faktor yang menyebabkan jadwal pemakaman Ali Khamenei berulang kali mengalami perubahan.