Beritagosip.com – Platform media sosial LinkedIn telah menghadirkan sebuah inovasi terbaru dalam usahanya memerangi masalah konten berkualitas rendah yang dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan. Fitur baru tersebut memungkinkan pengguna untuk melaporkan unggahan yang diduga dibuat menggunakan AI dan dinilai memiliki kualitas yang sangat minim atau yang lebih dikenal dalam istilah gaul internet sebagai “AI Slop”.
Dengan adanya fitur pelaporan ini, pengguna LinkedIn kini memiliki kemampuan untuk menekan tombol dengan label “Seems like AI slop” apabila mereka menemukan suatu unggahan yang terlihat tidak autentik atau sepenuhnya dihasilkan oleh mesin tanpa sentuhan manusia. Istilah AI slop sendiri mengacu pada fenomena konten buatan oleh artificial intelligence yang diproduksi secara masif, memiliki kualitas yang rendah, dan memberikan nilai yang sangat minim bagi para pembaca.
Inisiatif ini merupakan bagian integral dari strategi komprehensif LinkedIn untuk mengurangi kehadiran konten buatan mesin yang semakin banyak memenuhi dan merusak pengalaman pengguna di linimasa platform mereka. Situasi ini telah menjadi perhatian serius bagi manajemen LinkedIn karena dampak negatifnya terhadap kualitas interaksi pengguna.
Chief Product Officer LinkedIn, Hari Srinivasan, mengungkapkan bahwa masalah AI slop telah menjadi salah satu prioritas utama yang harus ditangani oleh perusahaan dengan segera. Srinivasan menjelaskan bahwa inti dari nilai platform LinkedIn adalah untuk memfasilitasi koneksi yang bermakna antara individu-individu nyata serta memungkinkan mereka untuk berbagi perspektif, gagasan, dan keahlian mereka yang sebenarnya.
“Orang datang ke LinkedIn untuk terhubung dengan manusia nyata serta membagikan perspektif, gagasan, dan keahlian mereka yang sebenarnya,” ungkap Srinivasan dalam postingan resminya di LinkedIn, seperti dilaporkan dari TechCrunch pada Jumat (31/7).
Meskipun demikian, penting untuk dicatat bahwa laporan dari pengguna tidak secara otomatis berarti konten tersebut akan segera dihapus dari platform. Tombol pelaporan tersebut akan berfungsi sebagai salah satu sinyal penting yang digunakan LinkedIn untuk melatih serta menyempurnakan sistem algoritma AI milik mereka dalam hal mengenali dan mengidentifikasi konten yang berkualitas rendah.
LinkedIn juga memperkenalkan sistem klasifikasi yang telah disempurnakan untuk mendeteksi dengan lebih akurat apakah sebuah unggahan tergolong AI slop atau konten berkualitas rendah dalam kategori lainnya. Konten yang terdeteksi sebagai konten berkualitas rendah melalui sistem ini nantinya akan diberikan prioritas lebih rendah dalam algoritma rekomendasi, sehingga lebih jarang muncul dalam feed pengguna yang berada di luar jaringan koneksi pembuat konten.
Lebih jauh lagi, LinkedIn juga akan memberikan notifikasi secara pribadi melalui dashboard akun apabila pengguna lain menilai unggahan seseorang terlihat tidak autentik karena terlalu banyak menggunakan teknologi AI dalam pembuatannya. Perusahaan berharap bahwa peringatan yang bersifat privat ini dapat membantu pengguna untuk memperbaiki kebiasaan menulis mereka, terutama bagi mereka yang hanya menggunakan AI sebagai alat bantu untuk menyunting atau merapikan tulisan pribadi mereka.
Dengan demikian, LinkedIn secara jelas membedakan penggunaan AI sebagai instrumen produktivitas yang legitimate dengan unggahan yang sepenuhnya dihasilkan oleh mesin dan dinilai tidak memberikan kontribusi bermakna kepada komunitas pengguna platform.
Perusahaan milik raksasa teknologi Microsoft itu juga mengambil keputusan strategis untuk menarik fitur sebelumnya bernama “Enhance your post” yang pada awalnya menggunakan AI untuk membantu pengguna dalam menulis unggahan. Fitur tersebut akan diganti dengan sebuah alat pemeriksa tulisan yang hanya memiliki fungsi untuk mengoreksi kesalahan teks tanpa mengubah gaya penulisan dan suara asli yang dimiliki oleh pengguna.
Selain mengandalkan laporan manual dari pengguna, LinkedIn juga memperkuat pertahanan sistemnya terhadap aktivitas otomatis yang mencurigakan. Platform tersebut mengklaim telah berhasil memblokir ratusan ribu percobaan komentar otomatis setiap hari. LinkedIn juga telah memblokir jutaan aktivitas otomatis lainnya dalam beberapa bulan terakhir untuk menjaga integritas platform.
Tantangan mengenai konten buatan AI tidak hanya dihadapi LinkedIn saja. Platform penyedia layanan buletin Substack juga sebelumnya menambahkan peralatan untuk membantu pengguna mengidentifikasi artikel yang ditulis oleh AI melalui kerjasama strategis dengan Pangram. Selain itu, perusahaan infrastruktur internet Cloudflare juga menyebutkan bahwa lalu lintas bot di internet saat ini telah melampaui permintaan yang dihasilkan oleh pengguna manusia.