Beritagosip.com – Aktivitas serangan militer Israel di Gaza, Palestina meningkat dengan pesat pada akhir pekan ini, mengakibatkan kematian sebanyak 11 orang dalam sehari. Bersamaan dengan itu, seorang menteri Israel menggarisbawahi urgensi mendapatkan kontrol mutlak terhadap wilayah Gaza.
Merujuk ke portal Aljazeera, sampai pukul 18.39 WIB, sedikitnya dua korban terbaru dari seluruh 11 korban berjatuhan akibat serangan pengeboman Israel yang mengenai sebuah transport di area Deir el-Balah, Gaza.
Pada dua hari berturut-turut, pesawat penyerang Israel melakukan pengeboman pada zona-zona beragam di Gaza dalam periode akhir pekan. Operasi serangan ini dilanjutkan oleh negara Zionis sambil Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim telah terjadi loncatan kemajuan dalam perjanjian gencatan senjata Gaza dari tahun sebelumnya.
Menurut laporan dari kantor kesehatan Palestina, jet tempur Israel melakukan serangkaian serangan di Kota Gaza sebelah utara, wilayah Deir al-Balah di bagian pusat, dan area Khan Younis di bagian selatan.
Tim medis mencatat seorang laki-laki dan pasangannya meninggal serta empat orang mengalami cedera ketika serangan mengenai hunian di Deir al-Balah. Sementara itu, dua individu tambahan, salah satunya anak kecil, meninggal akibat serangan pada hunian di Kota Gaza.
Ayah, ibu, dan anak laki-laki berusia sembilan tahun mereka tewas menjelang subuh setelah serangan pada rumah keluarga di kawasan Mawasi, Khan Younis. Seorang individu lain tewas di sekitar Jabalia, sebelah utara Gaza.
Militer Israel mengumumkan serangan di Deir al-Balah menargetkan dua pemimpin satuan khusus Hamas bernama Nukhba. Serangan di Kota Gaza dan daerah Jabalia diklaim juga menargetkan personel militer, namun pihak militer menyatakan masih mengkaji keadaan lapangan.
Berdasarkan informasi dari Aljazeera, James Smith, relawan fasilitator kesehatan di Gaza, mengemukakan bahwa infrastruktur kesehatan di wilayah tersebut telah hancur lama sejak operasi-operasi pengeboman Israel yang tidak pernah berhenti dimulai Oktober 2023. Dia juga mengisyaratkan bahwa unit-unit pertahanan militer Israel dengan terang-terangan menargetkan institusi-institusi pelayanan medis di Gaza.
Salah satu contohnya adalah gudang penyimpan obat-obatan esensial di area Gaza selatan yang mengalami serangan pada Sabtu (1/8) kemarin. Hal ini membuat Smith menyebut kondisi yang terjadi di Gaza dalam tiga tahun belakangan sebagai tindak genosida.
Dia menyatakan kejadian itu mengerikan saat gedung tempatnya berada berguncang ketika serangan berlangsung.
Smith memiliki dugaan bahwa Israel secara sengaja melemahkan infrastruktur kesehatan Gaza selama periode tiga tahun terakhir. Karena itu, dia mengkategorikan situasi tersebut sebagai tanda-tanda genosida terhadap masyarakat Palestina di Gaza.
Smith yang berbicara dari lokasi al-Mawasi di sebelah selatan Gaza mengatakan diperlukan kejelasan penuh mengenai apa yang sedang terjadi di sana, yakni tindakan genosida yang berlangsung perlahan-lahan (slow genocide): penyempitan akses sistem perawatan kesehatan dengan akibat langsung dan melintas generasi terhadap kesejahteraan kesehatan rakyat Palestina.
Dia mengungkapkan bahwa selama ini pasien-pasien yang datang ke rumah sakit dengan berbagai keluhan hanya mendapat beberapa tablet parasetamol karena kelangkaan obat-obatan. Walaupun ada bantuan masuk, tetapi semenjak tahun lalu hanya 1,6 persen dialokasikan untuk sektor kesehatan.
Bukan sekadar itu, sistem penunjang kehidupan seperti akses air bersih dan sanitasi juga rusak. Selain itu, makanan yang dikirim ke Gaza, menurutnya, “berkualitas sangat buruk.” Tempat kerja Smith secara teratur mengidentifikasi anak-anak yang mengalami kekurangan nutrisi setiap minggunya.
Di saat bersamaan, Eli Cohen, Menteri Energi Israel dan anggota komite pertahanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menyampaikan tidak ada perjanjian untuk menghentikan operasi militer di Gaza.
Mengutip Reuters, dia menyebut Negara Israel harus menguasai 100 persen wilayah Gaza. Menurut perkiraannya, saat ini negara Yahudi ini sudah menguasai 70 persen wilayah Gaza.
Kepada sumber berita militer, Cohen menyatakan tidak yakin pada komitmen Hamas akan melepas senjatanya, dan curiga kelompok itu akan sebaliknya bermain games dan berupaya menyimpan persenjataannya.
Cohen adalah pejabat berstatus tinggi Israel yang mengekspresikan keberatan terhadap kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas yang difasilitasi AS. Sebelumnya, Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Nasional Israel juga menyebut dokumen kesepakatan gencatan senjata itu ‘tidak dapat diterima’.
Menurut Ben-Gvir, Negara Israel sebaiknya terus mempertahankan operasi penghilangan nyawa terhadap tokoh-tokoh pimpinan Hamas.
Pada hari Kamis (30/7), Trump menyatakan telah terjadi terobosan, setelah Hamas mengisyaratkan kesediaan melepas senjata berdasarkan rencana yang didorong AS untuk melaksanakan perjanjian gencatan senjata yang telah disepakati tahun lalu di Mesir.
Badan Perdamaian, institusi yang dipimpin AS untuk mengawasi kesepakatan gencatan senjata, mengeluarkan panduan 15 langkah pada Jumat (31/7) yang berisikan tahapan-tahapan akhir implementasi perjanjian.
Namun rancangan tindakan tersebut belum diimplementasikan. Menurut pernyataan dari Hamas, mereka hanya akan menyerahkan senjata untuk penyimpanan setelah Negara Israel menghentikan operasi militer dan menarik tentaranya mengikuti kesepakatan dari tahun lalu.
Seorang pejabat tinggi Israel mengkomunikasikan kepada Reuters bahwa tidak akan terjadi penarikan dari posisi-posisi militer sekarang kecuali Hamas menjalankan “pelucutan senjata yang sejati”.
Netanyahu belum memberikan komentar officially tentang rencana terbaru ini.