Beritagosip.com – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengungkapkan perasaan yang mendalam tentang kegagalan tim sepak bola nasional dalam mencapai kualifikasi Piala Dunia 2026. Momen pengungkapan tersebut terjadi saat beliau memberikan taklimat dalam pertemuan khusus dengan para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis lalu.
Dalam kesempatan itu, Prabowo menggambarkan filosofi kepemimpinannya yang selalu berlandaskan atas data dan fakta konkret. Ia menggunakan situasi Timnas Indonesia sebagai contoh nyata untuk mengilustrasikan prinsip tersebut, sambil mengekspresikan kedalaman penyesalannya atas ketidakmampuan negeri ini meraih prestasi di panggung olahraga internasional terbesar.
Prabowo membandingkan posisi Indonesia dengan Tanjung Verde (Cape Verde), sebuah negara dengan populasi jauh lebih kecil yang justru berhasil menembus Piala Dunia 2026 dan melaju hingga melampaui fase grup. Kontras ini menjadi titik fokus dari keprihatinannya.
“Pertimbangkan fakta sederhana ini: kita adalah negara dengan populasi keempat terbesar di planet ini, hampir mencapai 300 juta jiwa. Namun, saya harus mengakui dengan terus terang bahwa saya sangat terpukul oleh realitas bahwa sistem sepak bola kita tidak mampu memastikan kehadiran di Piala Dunia. Ini adalah fakta yang tidak menyenangkan untuk dikenali, khususnya ketika negara sebanding dengan Cape Verde berhasil merebut tiket masuk,” ungkap Prabowo dengan nada yang penuh refleksi.
Presiden selanjutnya menerangkan bahwa Cape Verde adalah negara dengan skala geografis dan demografis yang jauh lebih terbatas—bahkan populasinya mungkin lebih kecil daripada satu kabupaten di Indonesia seperti Sumedang.
Prabowo tidak hanya menyebutkan Cape Verde. Ia juga menunjuk sejumlah negara-negara kecil lainnya yang secara mengejutkan berhasil meraih kesempatan di ajang Piala Dunia.
Respons yang disampaikan Prabowo bukan berupa pencarian kambing hitam atau penyalahan. Sebaliknya, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk melakukan introspeksi mendalam dan pembelajaran konstruktif dari kegagalan ini. Ia menekankan bahwa pada tahap saat ini, mengeluh atau menunjuk-nunjuk bukanlah strategi yang bermanfaat sama sekali.
“Alih-alih mencari-cari siapa yang salah, karena pendekatan itu tidak akan membawa manfaat apapun, kita harus bergeser ke fase pembelajaran. Pertanyaan yang harus kita ajukan adalah: bagaimanakah negara-negara itu berhasil? Apa strategi mereka? Siapakah pelatih mereka? Dari institusi mana saja guru-guru sepak bola mereka berasal?” desak Prabowo dengan penekanan yang jelas.
Kegagalan Timnas Indonesia untuk menembus panggung Piala Dunia 2026 terjadi setelah tim bermain sebagai juru kunci dalam fase keempat kualifikasi di kawasan Asia, posisi terendah di antara semua peserta kompetisi zona tersebut.