Beritagosip.com – Kementerian Luar Negeri China mengeluarkan pernyataan keras mengecam tindakan Amerika Serikat yang dianggap intervensionis. Pemerintah Tiongkok mengkritik ancaman penjatuhan sanksi sekunder terhadap negara-negara yang mempertahankan hubungan ekonomi dengan Iran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Lin Jian menyatakan posisi China dengan tegas dan jelas. Negara Asia Timur itu menolak keras segala bentuk tekanan eksternal yang berusaha mengubah kebijakan luar negerinya, terutama dalam aspek kerjasama internasional.
“Kerja sama China dengan Iran dilakukan dalam kerangka hukum internasional dan tidak boleh diganggu,” ujar Lin Jian mengutip AA, Selasa (25/8).
Pemerintah China menggarisbawahi bahwa setiap aktivitas perdagangan dan kerjasama ekonomi dengan Iran telah dilaksanakan sepenuhnya dalam parameter yang legal dan sah menurut ketentuan hukum internasional yang diakui secara global.
China menentang tegas apa yang mereka sebut sebagai sanksi sepihak yang dinilai tidak memiliki justifikasi hukum apapun. Menurut pernyataan resmi dari Beijing, langkah-langkah pemaksaan yang diterapkan Amerika Serikat tidak didukung oleh fondasi hukum internasional maupun keputusan resmi dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
“Lin menyatakan China menentang keras sanksi sepihak dan dinilai ilegal itu. Ia menyebut sanksi itu tidak memiliki dasar hukum internasional ataupun otorisasi dari Dewan Keamanan PBB,” diungkapkan dalam penjelasan resmi.
Pejabat China juga mengingatkan komunitas internasional tentang konsekuensi potensial dari eskalasi pertentangan ekonomi ini. Mereka memperingatkan bahwa konflik perdagangan yang meluas akan mengganggu stabilitas sistem keuangan global dan merugikan kepentingan ekonomi negara-negara lain.
“Ia juga mengingatkan sanksi baru AS terhadap Iran itu berpotensi mengganggu tatanan keuangan global,” dicatat dalam laporan kementerian.
Perspektif China adalah bahwa strategi tekanan maksimal dan perang ekonomi justru akan mengakibatkan eskalasi yang lebih tinggi. Mereka percaya bahwa aksi-aksi semacam itu hanya akan meningkatkan ketegangan dan dapat merusak ekonomi global secara keseluruhan.
“Langkah semacam itu hanya akan meningkatkan eskalasi konflik dan dapat mengganggu perekonomian global serta merugikan kepentingan negara-negara lain,” ditekankan Lin.
Sebagai alternatif konstruktif, China mendorong semua pihak yang berselisih untuk menjalin meja perundingan bilateral dan multilateral. Dialog terbuka diyakini sebagai cara paling efektif untuk menyelesaikan perselisihan dan mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan.
“Ia pun mendorong seluruh pihak yang berseteru untuk menggelar pembicaraan sebagai jalan keluar penyelesaian konflik,” disampaikan Lin.
Pesan kunci dari Beijing adalah bahwa eskalasi ekonomi dan taktik tekanan maksimal tidak akan menghasilkan solusi yang berkelanjutan. Sebaliknya, diplomasi dan dialog terbuka merupakan jalan yang tepat untuk mengatasi perbedaan kepentingan.
“Perang ekonomi dan tekanan maksimal bukanlah solusi,” ucapnya dengan penuh keyakinan.
Ketegang dalam hubungan tiga pihak ini menunjukkan kompleksitas geopolitik global yang terus berubah. Amerika Serikat sebelumnya meminta pemerintah negara lain untuk bergabung dalam usaha mengisolasi ekonomi Iran, dengan fokus khusus pada China sebagai salah satu mitra strategis utama Iran.
Upaya isolasi ekonomi ini juga melibatkan negara-negara lain di kawasan. Uni Emirat Arab, yang merupakan salah satu mitra dagang utama Iran, pada tanggal 18 Agustus mengumumkan penangguhan sementara seluruh transaksi perdagangan dan keuangan dengan Teheran hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Reaksi Iran terhadap tekanan internasional ini sangat tegas dan mengancam. Teheran memperingatkan seluruh negara di dunia agar tidak berpartisipasi dalam apa yang mereka sebut sebagai perang ekonomi yang digerakkan oleh Amerika Serikat.
Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezai, mengeluarkan ancaman tegas melalui siaran televisi resmi pemerintah. Pesan yang disampaikan jelas mengindikasikan bahwa setiap negara yang mengikuti strategi sanksi AS akan dianggap sebagai musuh oleh Iran.
“Negara mana pun yang berpartisipasi dalam penerapan pembatasan ekonomi terhadap kami akan dianggap sebagai musuh,” kata Mohsen Rezai dalam pernyataan yang penuh ancaman.