Beritagosip.com – “Eh, tahu enggak kalau…” Kalimat pendek itu sering membuka obrolan panjang. Topiknya biasanya seseorang yang justru tidak berada di ruangan. Banyak orang mencap gosip sebagai kebiasaan buruk. Namun manfaat gosip menurut studi menunjukkan gambaran yang berbeda.
Satu potongan cerita saja mampu bertahan lama dalam percakapan. Cerita itu bahkan menarik teman-teman lain untuk ikut nimbrung. Label negatif memang melekat, terutama ketika isinya membuka aib atau membocorkan rahasia orang lain.
Sejumlah penelitian justru menemukan sisi lain. Membicarakan orang lain membantu seseorang memahami situasi sosial di sekitarnya. Aktivitas itu juga membantu mengenali perilaku yang berpotensi merugikan sekaligus memperingatkan orang terdekat.
Riset dari University of Maryland dan Stanford University memperkuat temuan tersebut. Gosip membantu seseorang mengidentifikasi individu yang egois atau berpotensi merugikan orang lain.
Informasi semacam itu berguna ketika seseorang ingin menilai calon teman atau rekan. Syaratnya sederhana: informasi tersebut harus jujur. Membicarakan perilaku orang lain tidak selalu bertujuan menjatuhkan. Cerita itu bisa berfungsi sebagai peringatan sosial.
Bayangkan seorang perempuan bercerita kepada teman-temannya. Ia baru saja berkencan dengan pria yang mengabaikan batasan pribadi dan membuatnya tidak nyaman.
Cerita itu terdengar seperti gosip biasa. Namun informasi tersebut membuat teman-temannya lebih waspada saat bertemu orang yang sama. Dalam situasi semacam ini, gosip justru menuntun seseorang mengambil keputusan yang lebih aman.
Garis batasnya terletak pada tujuan. Seseorang yang membagikan fakta demi memahami perilaku, meminta sudut pandang, atau memperingatkan teman masih bergerak di wilayah positif.
Situasinya berubah ketika seseorang membumbui informasi. Membocorkan rahasia pribadi atau menyebar cerita agar orang lain dipermalukan mengubah gosip menjadi perilaku merusak.
Terapis Pernikahan dan Keluarga Berlisensi, Suzanne Koch Eckenrode, menjelaskan hal serupa kepada Vice. Gosip masuk kategori komunikasi sehat ketika membantu seseorang memahami perilaku orang lain tanpa menjadikannya target sosial. Jadi bukan hanya soal apa yang kita bicarakan. Alasan dan caranya sama pentingnya.
Gosip mulai berbahaya ketika tujuannya bergeser. Bukan lagi memahami situasi, melainkan menjatuhkan atau memanipulasi orang lain.
Eckenrode menambahkan, gosip merusak kepercayaan lewat tiga pola. Seseorang melebih-lebihkan informasi, membocorkan hal pribadi tanpa izin, atau mengajak orang lain memihak dalam konflik.
Kebiasaan menikmati rasa malu orang lain juga memperburuk hubungan. Kepercayaan yang sudah retak sulit kembali utuh. Orang yang gemar membahas urusan pribadi orang lain pun berisiko dicurigai. Lawan bicaranya bisa berpikir cerita mereka akan bernasib sama. Itulah sisi gelap di balik manfaat gosip menurut studi yang perlu kita sadari.