Beritagosip.com – Aksi siswa Prancis menuntut perbaikan sistem pendidikan kini meluas ke seantero negeri. Para siswa sekolah menengah atas (lycee) menjadi motor gerakan ini. Demonstrasi terjadi di sedikitnya 13 kota, dari Brest dan Rennes di barat hingga Strasbourg dan Toulon di timur, termasuk Paris.
Menurut AFP, 735 dari 3.700 lycee di Prancis terdampak. Di beberapa daerah, aksi memanas hingga memicu bentrokan dengan polisi. Rencana pemangkasan anggaran yang memperparah krisis pendanaan pendidikan menjadi pemicu ketidakpuasan itu.
Para guru yang tergabung dalam serikat ikut bergerak. Reuters melaporkan serikat pekerja menyerukan mogok guru pada Selasa, sepekan setelah pegawai sektor publik menggelar aksi serupa.
“[Kerusuhan dan aksi kekerasan terkait aksi itu] sangat disayangkan, namun… ketika tuntutan tidak didengar selama bertahun-tahun, dan mengingat konteks politik serta geopolitik yang ada, terdapat berbagai kondisi yang membuat… para siswa berada dalam kecemasan yang nyata,” ujar guru bernama Sandra Champain-Seller.
Tuntutan para siswa
Serikat pekerja gabungan mengklaim 300 ribu orang ikut mogok pada Selasa lalu, 30 ribu di antaranya di Paris. Para pekerja menuntut upah lebih tinggi dan kondisi kerja lebih baik.
Serikat menyebut pemerintah mengusulkan pembekuan gaji pokok pegawai negeri pada 2027 demi menghemat 2 miliar euro (sekitar Rp40,27 triliun). Aksi siswa terjadi dua hari sebelum pemerintah memaparkan rancangan anggaran.
Para siswa memprotes kelas yang terlalu padat, kekurangan guru, dan bangunan sekolah rusak. Mereka juga mempertanyakan minimnya investasi pendidikan selama bertahun-tahun.
“Ada 35 siswa di setiap kelas, kursi di kelas tidak cukup, dan waktu istirahat makan siang selama satu jam (terlalu singkat) bagi semua orang untuk mendapatkan makanan,” ujar Kesia (15) kepada Reuters di Pantin.
Bentrokan dan penangkapan
Pemerintah menutup 400 sekolah menengah pada Jumat (1/10). Menteri Pendidikan Edouard Geffray meminta orang tua mengawasi anak-anak mereka.
Kementerian Dalam Negeri mencatat 1.027 sekolah terdampak kekerasan pada Kamis, dan sekitar 100 sekolah rusak serius. Menteri Kehakiman Gerald Darmanin menuding pihak luar menunggangi aksi ini.
Polisi menembakkan gas air mata dan peluru karet, lalu menangkap 1.949 orang, mayoritas pelajar. Kelompok HAM menuduh polisi bertindak kasar terhadap anak di bawah umur. Otoritas membuka beberapa penyelidikan, termasuk kasus remaja 16 tahun yang matanya cedera.