Beritagosip.com Bureau of International Recycling atau BIR menyampaikan penolakan terhadap rencana Komisi Eropa yang ingin membatasi ekspor aluminium bekas. Organisasi tersebut menilai kebijakan itu tidak diperlukan dan berpotensi merusak sistem ekonomi sirkular.
BIR yang bermarkas di Brussels dan mewakili 37 federasi daur ulang nasional menegaskan larangan ekspor Uni Eropa atau pembatasan perdagangan limbah aluminium dinilai tidak efektif. Menurut BIR, Uni Eropa sudah menghasilkan limbah aluminium lebih banyak dibandingkan kemampuan serapan pasar domestik.
Data yang tersedia disebut tidak menunjukkan adanya kebocoran limbah struktural yang dapat membenarkan intervensi kebijakan. Pernyataan ini disampaikan BIR sebagai tanggapan atas konsultasi publik Uni Eropa terkait pembatasan ekspor aluminium bekas yang berlangsung hingga akhir Januari.
Aluminium bekas dinilai sebagai material bernilai tinggi dan memiliki jejak karbon jauh lebih rendah dibandingkan aluminium primer. Istilah kebocoran limbah merujuk pada hilangnya material daur ulang ke pasar luar negeri.
BIR menilai pembatasan ekspor aluminium bekas justru akan menciptakan kelebihan pasokan di dalam Uni Eropa. Kondisi tersebut diperkirakan menekan harga besi tua dan menempatkan perusahaan daur ulang pada posisi ekonomi yang tidak berkelanjutan.
Dampak lanjutan dari kebijakan itu dinilai dapat menurunkan tingkat pengumpulan dan daur ulang. Risiko aliran limbah yang tidak terkendali juga meningkat dan berpotensi merusak ekonomi sirkular.
Sebelumnya, Komisi Eropa menyatakan rencana pembatasan ekspor aluminium bekas pada November 2025. Langkah tersebut dimaksudkan untuk menghentikan arus besar aluminium bekas keluar dari Uni Eropa yang dinilai memicu kekurangan pasokan bagi industri regional.
Usulan Komisi Eropa mendapat dukungan dari lobi aluminium European Aluminium. Kelompok tersebut mendorong pembuat kebijakan untuk menerapkan biaya ekspor pada material aluminium bekas.
Komisi Eropa dijadwalkan mengusulkan langkah yang lebih terarah terkait limbah aluminium pada kuartal kedua tahun ini. Di sisi lain, muncul kekhawatiran akan terjadinya penurunan sektor daur ulang jika ekspor aluminium bekas ke Asia dan Amerika Serikat tetap dibuka.
China disebut akan membeli limbah aluminium dari Eropa, meleburkannya, lalu mengekspor kembali ke Uni Eropa sebagai logam baru. Kondisi ini dinilai merugikan industri regional.
Wakil Presiden Eksekutif Novelis, Emilio Braghi, menyebut Eropa berisiko kehilangan limbah aluminium setelah sebelumnya kehilangan produksi primer. Ia juga menilai tujuan lingkungan Uni Eropa sulit tercapai jika ekspor aluminium terus dibiarkan.
Produsen di Uni Eropa menghadapi harga energi yang jauh lebih tinggi dibandingkan pesaing global. Kondisi tersebut mendorong peralihan ke peleburan ulang aluminium bekas yang lebih hemat energi.
Kampanye daur ulang menjadi bagian dari strategi Uni Eropa untuk menekan emisi gas rumah kaca dengan target net zero pada 2050. Upaya ini juga dilakukan untuk mengurangi ketergantungan impor dari China.
Menurut Braghi, konsumen Eropa memiliki karakter unik dalam kesediaan membayar lebih untuk produk daur ulang. Kepedulian terhadap lingkungan dan krisis iklim disebut menjadi faktor utama.
Ia menyatakan konsumen mempertimbangkan kandungan daur ulang saat membeli produk seperti mobil baru atau kaleng aluminium. Fenomena tersebut dinilai tidak terlihat di kawasan lain.