Beritagosip.com Morgan Stanley Capital International (MSCI) resmi memperbarui komposisi indeksnya per 30 Januari 2026. Sejumlah saham Indonesia masuk dalam daftar saham kena depak MSCI berdasarkan hasil review MSCI 2026 terbaru.
Berdasarkan data resmi MSCI, dua emiten yang keluar dari indeks adalah PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) dan PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES). Keduanya sebelumnya tercatat dalam kategori Small Cap Indexes atau SMID.
Dalam kategori tersebut, MSCI mensyaratkan kapitalisasi pasar saham minimal US$141,5 juta. Indeks MSCI Indonesia SMID Cap merepresentasikan perusahaan berkapitalisasi menengah dan kecil di pasar saham domestik. Dengan 63 konstituen, indeks ini mencakup sekitar 28 persen kapitalisasi pasar saham yang disesuaikan dengan free float di Indonesia.
Selain saham kena depak MSCI dari kategori small cap, perubahan juga terjadi pada saham berkapitalisasi besar. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) turun dari Global Standard Indexes ke SMID.
Per 30 Januari 2026, kapitalisasi pasar saham INDF tercatat sebesar US$1,78 miliar. Angka tersebut berada di bawah batas minimal kategori kapitalisasi besar yang ditetapkan sebesar US$3,9 miliar.
Di sisi lain, review MSCI 2026 juga menghadirkan nama baru dalam daftar unggulan. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) masuk dalam 10 saham Indonesia teratas. Kapitalisasi pasar saham BRMS tercatat sebesar US$3,65 miliar.
Masuknya BRMS menggeser posisi PT Barito Pacific Tbk (BRPT). Per 31 Desember 2025, BRPT memiliki kapitalisasi pasar sebesar US$4,6 miliar.
Sebelumnya, MSCI menetapkan sejumlah kebijakan dalam review MSCI 2026 untuk saham Indonesia. Pertama, pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS).
Kedua, MSCI membekukan penambahan konstituen baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). Ketiga, pembekuan perpindahan naik antar-segmen ukuran indeks, termasuk dari Small Cap ke Standard.
MSCI menyatakan langkah ini bertujuan mengurangi tingkat perputaran indeks dan risiko kelayakan investasi. Kebijakan tersebut juga memberi waktu bagi otoritas pasar untuk meningkatkan transparansi.
Jika hingga Mei 2026 tidak ada perbaikan, MSCI akan mengevaluasi kembali status akses pasar Indonesia. Evaluasi tersebut mempertimbangkan potensi penurunan bobot dalam Emerging Markets Index serta kemungkinan perubahan status menjadi frontier market.
Menanggapi review MSCI 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menggelar sejumlah pertemuan daring dengan MSCI. Pertemuan terakhir berlangsung pada Rabu, 11 Februari.
Pejabat sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyebut pembahasan berjalan konstruktif. Namun, detail dan kesimpulan pertemuan tidak dapat dipublikasikan karena bersifat rahasia.
BEI memaparkan tiga rencana aksi dari self regulatory organization (SRO). Pertama, peningkatan transparansi melalui pengungkapan pemegang saham di atas 1 persen.
Kedua, penyajian data investor yang lebih rinci dengan 28 kategori. Selain itu, BEI mendorong kenaikan batas minimal saham beredar di publik dari 7,5 persen menjadi 15 persen.
Ketiga, BEI berencana menerbitkan shareholders concentration list. Daftar tersebut akan memuat saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dan mengacu pada praktik di Hong Kong Exchanges and Clearing (HKEX).
Berikut daftar saham MSCI Januari 2026 untuk 10 saham Indonesia teratas berdasarkan kapitalisasi pasar saham:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai pasar US$24,46 miliar
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan kapitalisasi pasar US$15,48 miliar
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan nilai pasar US$10,72 miliar
- PT Telekom Indonesia Tbk (TLKM) dengan nilai pasar US$10,62 miliar
- PT Astra International Tbk (ASII) dengan kapitalisasi pasar US$7,66 miliar
- PT Amman Mineral INTL Tbk (AMMN) dengan kapitalisasi pasar US$6,57 miliar
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dengan nilai pasar US$5,91 miliar
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan nilai pasar US$4,08 miliar
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dengan nilai pasar US$3,99 miliar
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dengan nilai pasar US$3,65 miliar
Perubahan komposisi indeks MSCI Indonesia ini menegaskan dinamika kapitalisasi pasar saham domestik. Review MSCI 2026 juga menjadi perhatian pelaku pasar karena berdampak langsung pada arus dana global dan posisi saham kena depak MSCI di mata investor internasional.