Beritagosip.com Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akhirnya memberikan tanggapan terkait kesepakatan damai AS-Iran yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Dalam pidato yang disiarkan melalui televisi pada Senin (15/6), Netanyahu menegaskan bahwa terlepas dari tercapai atau tidaknya kesepakatan damai AS-Iran, prioritas utama Israel tetap sama, yakni memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir.
Netanyahu juga membela keputusan pemerintahannya melancarkan operasi militer terhadap Iran. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan demi mencegah ancaman yang lebih besar terhadap keamanan Israel.
“Yang terpenting adalah kita telah menyelamatkan negara Israel dari ancaman pemusnahan oleh nuklir,” kata Netanyahu.
Pernyataan itu menjadi komentar pertama Netanyahu setelah Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan damai yang bertujuan menghentikan konflik di berbagai front kawasan Timur Tengah.
Netanyahu Pertahankan Serangan ke Iran
Dalam pidatonya, Netanyahu menilai operasi militer yang dilakukan Israel telah memberikan perlindungan terhadap negaranya dari ancaman nuklir Iran.
Serangan tersebut sebelumnya memicu kritik dari berbagai pihak karena sempat mendorong lonjakan harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, Netanyahu menegaskan bahwa langkah militer tersebut merupakan keputusan yang diperlukan demi menjaga keamanan nasional Israel.
Isi Kesepakatan Damai AS-Iran
Donald Trump pada Minggu (14/6) mengumumkan bahwa kesepakatan damai AS-Iran telah dicapai setelah serangkaian pembicaraan diplomatik.
Kesepakatan itu disebut mencakup penghentian pertempuran di berbagai wilayah konflik, termasuk Lebanon yang selama ini menjadi sasaran operasi militer Israel.
Namun, perjanjian tersebut belum memiliki kekuatan hukum karena masih menunggu proses penandatanganan resmi.
Rencananya, nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) akan ditandatangani di Swiss pada Jumat (19/6).
Sejumlah Menteri Israel Tolak Kesepakatan
Kesepakatan damai AS-Iran memicu respons beragam di kalangan pejabat Israel.
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, menjadi salah satu tokoh yang secara terbuka menolak kesepakatan tersebut. Ia beralasan Israel tidak terlibat dalam proses negosiasi sehingga tidak memiliki kewajiban untuk mematuhi hasil perundingan.
Penolakan itu menunjukkan adanya perbedaan pandangan di dalam pemerintahan Israel mengenai arah kebijakan keamanan setelah tercapainya kesepakatan diplomatik antara Washington dan Teheran.
Israel Tetap Pertahankan Posisi Militer
Selain membahas kesepakatan damai AS-Iran, Netanyahu juga menegaskan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di sejumlah wilayah strategis.
Menurutnya, keberadaan militer Israel di Lebanon, Jalur Gaza, dan Suriah diperlukan untuk mencegah munculnya ancaman baru terhadap keamanan negara tersebut.
Netanyahu menegaskan Israel tidak akan memberikan ruang bagi kelompok bersenjata yang dianggap berpotensi mengancam wilayahnya.
“Israel tidak akan membiarkan organisasi teroris menancapkan diri di perbatasan kami, menggali terowongan teror ke wilayah kami, atau mempersiapkan pembantaian di dekat warga negara kami,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa meskipun kesepakatan damai AS-Iran tengah dipersiapkan, Israel tetap berkomitmen mempertahankan kehadiran militernya di sejumlah kawasan yang dianggap memiliki risiko keamanan tinggi.