Beritagosip.com – Media massa Maroko secara konsisten menolak untuk mereduksi pertandingan perempat final Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Maroko hanya sebagai momen balas dendam olahraga semata. Laga yang akan digelar di Stadion Boston pada hari Kamis (9/7) atau Jumat (10/7) dini hari waktu Indonesia ini membawa dimensi jauh lebih dalam dan bermakna bagi bangsa Maroko.
Bagi sejumlah besar warga Maroko, pertandingan perempat final tersebut mengandung bobot simbolis yang jauh melampaui sekadar persaingan sepak bola di level internasional. Pertandingan ini dipandang sebagai kesempatan bersejarah untuk menghadapi dan mengatasi warisan mendalam dari era penjajahan kolonial di atas panggung olahraga terbesar yang dimiliki dunia.
Publikasi Morocco World News mengungkapkan perspektif ini dengan jelas, menuliskan bahwa para penggemar tim Singa Atlas memandang pertandingan ini sebagai peluang berharga untuk mengekspresikan identitas nasional dan kebanggaan mereka. Maroko bukan sekadar ingin menang dalam permainan bola, melainkan ingin merepresentasikan semangat perlawanan dan kekuatan bangsa di hadapan dunia.
Narasi Maroko telah berubah secara signifikan sejak Piala Dunia 2022 lalu. Waktu itu, kesuksesan luar biasa tim Maroko yang berhasil menembus semifinal terasa seperti kisah dongeng yang tidak terlalu dipercaya oleh masyarakat luas. Prestasi tersebut dianggap sesuatu yang mengejutkan dan di luar ekspektasi normal.
Namun, dalam Piala Dunia 2026 ini, ceritanya telah berkembang dengan drastis. Maroko tidak lagi hidup dalam narasi keterpurukan atau ketidakyakinan diri. Tim Maroko kini menampilkan kepercayaan diri yang solid dan ambisi yang jelas untuk mencapai puncak prestasi tertinggi dalam kompetisi internasional.
Achraf Hakimi dan para pemain Maroko lainnya menolak keras untuk terus disebut sebagai tim underdog atau kuda hitam yang tidak diunggulkan dalam pertandingan. Mereka telah membuktikan di lapangan bahwa tim mereka setara dengan lawan manapun, bahkan ketika menghadapi Prancis yang memiliki deretan pemain bintang berstandar kelas dunia. Kepercayaan diri ini bukan datang dari kesombongan, melainkan dari kesadaran akan kemampuan dan potensi yang telah mereka tunjukkan.
Secara historis, hubungan antara Maroko dan Prancis dibayang-bayangi oleh pengalaman penjajahan yang panjang dan menyakitkan. Maroko berada di bawah penguasaan Prancis sejak tanggal 30 Maret 1912. Masa penjajahan tersebut berlangsung sangat lama hingga Maroko akhirnya berhasil meraih kemerdekaan pada tanggal 2 Maret 1956. Hingga hari ini, masyarakat Maroko masih menyimpan luka mendalam terhadap negara Prancis sebagai akibat dari sejarah kelam tersebut.
Pertandingan perempat final Piala Dunia 2026 ini diharapkan dapat menjadi tonggak bersejarah baru bagi Maroko, yaitu sebagai simbol kemenangan dan pembebasan dari bayang-bayang masa lalu. Jika dalam Piala Dunia 2022 sentimen publik Maroko masih terselimuti pesimisme dan keraguan, kini emosi tersebut telah berubah total menjadi optimisme yang membara dan harapan yang kuat.
Dalam catatan head to head atau pertemuan langsung, Prancis dan Maroko sudah saling bertemu sebanyak enam kali di berbagai kesempatan. Dalam rekor pertandingan tersebut, Prancis telah meraih kemenangan sebanyak empat kali. Sementara itu, kedua tim telah mengakhiri dua pertandingan dengan hasil imbang. Dalam salah satu pertandingan berakhir imbang tersebut, kemenangan akhirnya diraih Prancis setelah melewati babak adu penalti yang dramatis.
Rekor historis ini menunjukkan dominasi Prancis terhadap Maroko, namun tidak menutup kemungkinan Maroko untuk membalikkan keadaan dan menulis sejarah baru dalam pertemuan kali ini. Dengan semangat nasionalisme yang tinggi dan persiapan yang matang, Maroko siap memberikan tantangan serius kepada Prancis di Piala Dunia 2026.