Beritagosip.com – Pejabat tinggi Hamas bernama Ghazi Hamad telah mengonfirmasi kepada publik bahwa kelompok perlawanan Palestina tersebut telah mencapai sebuah kesepakatan penting dengan Board of Peace (BoP) mengenai rencana pelucutan senjata yang akan dilaksanakan secara bertahap. Board of Peace merupakan sebuah badan yang didirikan atas prakarsa langsung dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan tujuan utama untuk menyelesaikan konflik berlarut-larut di Jalur Gaza Palestina.
Namun dalam wawancara eksklusifnya kepada CNN, Hamad menjelaskan bahwa keputusan Hamas untuk melakukan pelucutan senjata ini memiliki persyaratan yang sangat ketat dan tidak dapat dikompromikan. Ada dua syarat utama yang harus dipenuhi sebelum Hamas bersedia memulai proses pelucutan senjata, yakni masalah penempatan Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF) di seluruh wilayah Gaza serta keharusan Israel untuk mematuhi dan melaksanakan seluruh kewajibannya dalam perjanjian gencatan senjata yang telah ditandatangani pada Oktober tahun lalu.
“Kesepakatan ini adalah satu paket utuh yang tidak dapat dipisahkan,” kata Hamad dengan tegas pada Jumat (31/7).
“Kami tidak akan memulai langkah apa pun terkait persenjataan sebelum Israel melaksanakan komitmennya. Terus terang, jika Israel tidak melaksanakannya, kami juga tidak akan melanjutkan proses ini,” paparnya menambahkan dengan penekanan yang jelas.
Menurut penjelasan detail dari Hamad, Israel harus terlebih dahulu menghentikan sepenuhnya seluruh operasi militer yang sedang berjalan, mengakhiri semua kegiatan pembunuhan dan penembakan di Gaza, serta menarik pasukannya hingga ke Yellow Line sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam perjanjian gencatan senjata Oktober.
Selain persyaratan militer tersebut, Israel juga harus mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan dalam jumlah yang sangat besar dan substansial sebagaimana diatur secara rinci dalam kesepakatan bilateral yang telah ditandatangani sebelumnya.
Lebih lanjut, Hamad juga menekankan bahwa National Committee for the Administration of Gaza (NCAG) harus dapat memasuki Gaza dan mengambil alih tanggung jawab administratif dan pemerintahan di wilayah tersebut. NCAG merupakan sebuah badan yang berada di bawah koordinasi langsung Board of Peace dan terdiri dari sebuah komite teknokrat Palestina yang berwenang untuk mengontrol dan mengelola Jalur Gaza pada periode sementara.
Hamad menjelaskan bahwa NCAG nantinya akan mengambil alih kendali penuh atas senjata-senjata yang dimiliki oleh divisi kepolisian Hamas di Gaza. Akan tetapi, ia dengan tegas menegaskan bahwa senjata-senjata berat dan strategis yang dimiliki Hamas tidak akan dinonaktifkan ataupun dimusnahkan secara total. Sebaliknya, persenjataan tersebut akan “disimpan dengan aman di bawah pengawasan ketat Komite Nasional untuk situasi yang mungkin terjadi di masa depan.”
Hamad kembali menekankan dengan keras bahwa seluruh proses pelucutan senjata tidak akan berjalan apabila Israel tidak memenuhi kewajibannya sepenuhnya sebagaimana telah disepakati. Pejabat Hamas ini merujuk pada pengalaman pahit di fase pertama implementasi kesepakatan yang menurutnya sangat buruk dan mengecewakan.
“Pengalaman kami pada fase pertama sangat buruk. Israel tidak mematuhi perjanjian dan terjadi ratusan bahkan ribuan pelanggaran. Kini tantangannya ada pada para penjamin: Amerika Serikat, Qatar, Turki, dan Mesir untuk memastikan 100 persen bahwa Israel benar-benar akan mematuhi dan melaksanakan seluruh butir kesepakatan,” ujar Hamad dengan nada frustasi.
“Saya berharap Israel akan menyetujuinya—kami masih menunggu jawaban positif,” paparnya menambahkan dengan penuh harapan.