Beritagosip.com – Pengembangan data center AI mendorong kebutuhan pusat data di banyak negara, tetapi Indonesia harus memperhitungkan sejumlah tantangan. Operasional fasilitas ini membutuhkan air dan listrik dalam jumlah besar, terutama bila memakai pendingin berbasis penguapan.
Persoalan itu terlihat pada proyek data center AI milik BDx Data Centers senilai Rp3,5 triliun di kawasan Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat. Proyek tersebut berhenti sementara karena masalah perizinan dan sorotan terhadap dampak lingkungannya.
Kekhawatiran soal Air
Pakar teknologi pengelolaan lingkungan FTSL ITB, Mariana Marselina, menilai pembangunan harus mengkaji dampak ekologisnya. Menurutnya, Waduk Jatiluhur melayani banyak fungsi, dari air baku hingga irigasi. Karena itu, kebutuhan data center tidak boleh mengurangi jatah masyarakat, termasuk saat kemarau.
Kekhawatiran itu wajar dan perlu dijawab dengan data, kata Mariana kepada wartawan.
Secara global, studi Environmental and Energy Study Institute (EESI) pada 2025 menyebut satu data center bisa memakai hingga 5 juta galon air per hari, atau sekitar 18,9 juta liter. Peneliti Miguel Yanez-Barnuevo menyebut jumlah itu setara kebutuhan 10 ribu hingga 50 ribu orang.
Namun, CEO Amazon Web Services Matt Garman membantah angka tersebut. Ia menyebut rata-rata data center memakai sekitar 170 ribu galon per hari, sedangkan fasilitas Amazon kurang dari 13 ribu galon.
Sikap Pemerintah
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut tiga syarat utama bagi basis industri data center: lahan, listrik, dan air. Pemerintah menyiapkan ekspansi KEK digital Bintan yang sudah penuh, serta kawasan di Karawang. Tambahan kapasitas listrik bisa mencapai sekitar 500 megawatt dalam dua hingga tiga tahun.
Sementara itu, WALHI mendorong regulasi dan pengawasan yang lebih ketat. BRIN menilai proyek di Jatiluhur perlu analisis neraca air. Mariana juga mendorong pendinginan tertutup dan pemanfaatan air daur ulang.