Beritagosip.com – Polemik Lutfi vs Dino menghangat. Mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dan eks Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal berbeda pandangan soal hubungan Indonesia-Singapura di tengah polemik pasar modal dan karhutla.
Perbedaan itu mengemuka setelah MSCI membuka konsultasi soal kemungkinan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia pada 15 Oktober. Di saat bersamaan, Singapura berencana mengirim surat peringatan ke tujuh perusahaan di Indonesia terkait kebakaran lahan.
Lutfi menuding Singapura berupaya menekan pasar modal Indonesia lewat MSCI. Ia menduga perubahan status dari emerging market menjadi standalone market bisa memicu penurunan harga saham, membuka peluang investor asing membeli dengan harga murah.
“Lalu, kenapa Singapura lewat institusi raksasa mereka seperti Temasek dan GIC yang punya pengaruh besar di MSCI begitu ngotot menekan Indonesia?” kata Lutfi di Instagram, Senin (19/10).
Lutfi bahkan mengklaim petinggi GIC bernama Rachel Goh menekan MSCI menurunkan status RI. Klaim itu belum terverifikasi, dan pengumuman MSCI sendiri tidak memuat bukti tekanan dari Singapura.
Soal Surat Peringatan Karhutla
Di isu karhutla, Lutfi menilai surat peringatan (preventive notice) Singapura ke tujuh perusahaan tidak cukup.
“Jangan hanya menulis surat, jangan hanya mengirim peringatan ke Jakarta, geledah kantor mereka di Singapura pakai hukum Singapura. Kalau mau tegas, jangan hanya tegas ke orang kecil, tapi ke semua orang,” kata Lutfi.
Ia menyoroti perusahaan sawit yang beroperasi di Indonesia tetapi berinduk atau tercatat di bursa Singapura.
“Indonesia yang kebagian asap, rusak lingkungan dan buruk namanya, sementara Singapura yang mengantongi keuntungannya,” ujar Lutfi.
Terkait seruan politikus Malaysia Syed Saddiq agar Indonesia dikucilkan, Lutfi balik menuding kelompok usaha Malaysia menguasai 3,4 juta hektare konsesi sawit di RI, angka yang juga merupakan klaimnya tanpa data independen.
“Jika sebuah perusahaan, baik Indonesia maupun Malaysia, bertanggung jawab atas kebakaran, tuntut perusahaan itu. Namun, jangan menghina seluruh bangsa dan jangan pernah menyebut Indonesia sebagai negara yang dikucilkan,” tulis Lutfi.
Dino: Jangan Bangun Kecurigaan
Dino Patti Djalal sebaliknya menilai tudingan konspirasi itu tidak masuk akal. Pendiri FPCI ini mengatakan Singapura adalah tetangga yang punya goodwill dan track record kerja sama teruji.
“Hukumnya tabu dan haram bagi elit politik Singapura untuk berkonspirasi mencelakai Indonesia. Sebagaimana juga tabu dan haram bagi Indonesia untuk mencelakai Singapura,” tegasnya.
Dino memandang krisis asap sebagai ujian diplomasi Indonesia era Prabowo, mencontohkan penanganan tsunami Aceh 2004 yang justru menguatkan kerja sama internasional.
“Sejuta kawan terlalu sedikit, satu lawan musuh terlalu banyak,” ujar Dino.