Beritagosip.com – Air liur kucing sering dianggap sepele, padahal risikonya nyata tergantung kondisi kulit dan cara cairan itu masuk ke tubuh.
Air liur kucing memang mengandung enzim seperti lisozim yang bersifat antibakteri. Namun cairan ini tidak steril dan bisa membawa bakteri penyebab infeksi.
Kapan Berbahaya?
Menjilat kulit yang utuh umumnya berisiko rendah. Masalah muncul bila air liur mengenai luka terbuka, bekas operasi, atau kulit yang rusak, termasuk lewat gigitan dan cakaran.
Ada tiga ancaman utama. Pertama, bakteri Pasteurella multocida yang umum di mulut kucing dan bisa memicu kemerahan, bengkak, dan nyeri di sekitar luka.
Kedua, Capnocytophaga canimorsus yang jarang tetapi bisa berkembang menjadi kondisi serius pada orang dengan faktor risiko. Ketiga, protein alergen Fel d 1 yang bisa memicu reaksi alergi pada orang sensitif.
Waspadai Gejalanya
Infeksi Capnocytophaga biasanya muncul 3-5 hari setelah paparan. Gejalanya meliputi kemerahan, pembengkakan, dan nyeri di sekitar luka; lepuh pada area terluka; demam dan sakit kepala; serta mual, muntah, atau diare.
Pada kasus berat, infeksi bisa berkembang menjadi sepsis atau meningitis dan merusak jaringan. Orang dengan imun lemah, tanpa limpa, berusia di atas 40 tahun, atau kebiasaan merokok dan minum alkohol berlebih perlu ekstra waspada.
Cara Mencegahnya
Cuci kulit yang kena jilatan dengan air mengalir dan sabun, terutama bila ada luka. Jangan biarkan kucing menjilat luka terbuka atau bekas operasi.
Luka gigitan atau cakaran harus segera dicuci, lalu cari pertolongan medis bila dalam atau berada di wajah dan tangan. Pantau juga kemerahan meluas, nanah, atau demam setelah terpapar.
Kesimpulannya, air liur kucing pada kulit sehat risikonya rendah, tetapi kontak dengan luka terbuka wajib dihindari.