Beritagosip.com – Klaim Presiden AS Donald Trump atas keberhasilan serangan udara ke fasilitas nuklir Iran dibantah oleh analisis intelijen Pentagon. Laporan internal menyebut, serangan itu tak menghancurkan komponen utama program nuklir Iran, melainkan hanya menundanya selama beberapa bulan.
Sejumlah sumber yang mengetahui penilaian Badan Intelijen Pertahanan (DIA) menyebut kerusakan yang diakibatkan serangan hanya bersifat permukaan. “AS hanya menunda program nuklir Iran dalam beberapa bulan paling lama,” kata salah satu sumber kepada CNN International, Kamis (26/6/2025).
Meski laporan itu telah beredar di kalangan pejabat tinggi, Gedung Putih membantah keras kebenarannya. Sekretaris Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut laporan tersebut sebagai upaya melemahkan kepemimpinan Trump. “Empat belas bom seberat 30 ribu pon dijatuhkan, itu artinya pemusnahan total,” ucapnya membela.
Trump juga bersikukuh bahwa serangan udara yang diperintahkannya adalah “paling sukses dalam sejarah.” Dalam unggahan di Truth Social, ia menyebut: “Fordow sudah tidak ada.”
Namun bukti di lapangan berkata lain.
Citra satelit dari fasilitas Fordow, Natanz, dan Isfahan memang menunjukkan kerusakan, tetapi tidak ada konfirmasi hancurnya bagian dalam. Beberapa ahli mengatakan, fasilitas-fasilitas itu dibangun di kedalaman ekstrem untuk menahan serangan konvensional.
David Albright, mantan inspektur PBB, menduga kerusakan parah mungkin terjadi. Namun analis dari CNA Corporation, Decker Eveleth, menyatakan hal sebaliknya. “Terlalu dalam untuk bisa dievaluasi dari citra satelit,” katanya.
Lebih jauh lagi, informasi intelijen menunjukkan Iran kemungkinan telah memindahkan persediaan uranium berkadar tinggi dari Fordow sebelum serangan berlangsung, pada Minggu (22/6). Lokasi penyimpanan baru masih dirahasiakan—bahkan pihak Israel, AS, dan inspektur nuklir PBB belum dapat melacaknya.
Citra satelit Maxar Technologies juga menunjukkan aktivitas tidak biasa menjelang serangan, dengan antrean kendaraan di luar kompleks Fordow pada Kamis dan Jumat.