Beritagosip.com – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan menyusul serangan udara Amerika Serikat ke fasilitas nuklir Iran, yang memicu lonjakan risiko geopolitik di Timur Tengah. Langkah ini menandai keterlibatan resmi AS dalam perang terbuka dengan Iran, memicu kekhawatiran pasar keuangan global.
Presiden AS Donald Trump dalam pernyataan di platform Truth Social pada Sabtu malam (21/6/2025 waktu setempat) menyebut misi tersebut sukses mengebom tiga situs nuklir utama Iran, yakni Fordow, Natanz, dan Isfahan.
“Muatan penuh BOM dijatuhkan di situs utama, Fordow. Semua pesawat kini dengan aman dalam perjalanan pulang. SEKARANG WAKTUNYA UNTUK DAMAI!” tulis Trump seperti dikutip Al Jazeera.
Namun, alih-alih menenangkan pasar, seruan damai Trump justru dipandang sebagai bentuk eskalasi yang dapat memperluas konflik antara Iran dan koalisi negara Barat.
Rupiah Tertekan, Emas dan Dolar Jadi Pelarian Investor
Menurut analis pasar uang Ariston Tjendra, situasi saat ini mendorong investor mengalihkan dana dari aset berisiko ke aset safe haven seperti emas dan dolar AS. Rupiah, yang tergolong mata uang negara berkembang, terkena dampak signifikan.
“Dalam jangka pendek, rupiah masih berpeluang melemah. Apalagi kalau Iran membalas dan konflik terus membesar,” ujarnya kepada Kompas.com, Minggu (22/6/2025).
Ariston memprediksi nilai tukar USD/IDR bisa tetap di atas Rp16.200, seiring meningkatnya permintaan terhadap dolar AS sebagai instrumen lindung nilai saat ketidakpastian global meninggi.
Ia menambahkan bahwa tren ini bisa bertahan selama pasar belum melihat sinyal meredanya tensi Iran-AS. Apalagi jika Iran mampu menyeret sekutu-sekutunya untuk turut berkonflik.
Menanti Respons Iran
Kunci dari arah pasar saat ini adalah reaksi lanjutan dari Iran. Jika Iran memilih menahan diri dan tidak melakukan serangan balasan, pasar berpeluang stabil seperti pada eskalasi sebelumnya.
Namun jika Iran melancarkan respons militer terbuka, atau bahkan menarik sekutu seperti Hizbullah dan Yaman dalam konfrontasi, potensi gejolak pasar akan makin besar.
“Kalau sampai berdampak pada suplai energi global, ini bisa picu koreksi dalam pada pasar dan tekanan ke rupiah makin berat,” jelas Ariston.
Pasar kini tak hanya mencermati perkembangan militer, tapi juga potensi dampaknya terhadap rantai pasok global, inflasi, hingga cadangan devisa negara berkembang.