Beritagosip.com – Truk China bermunculan di sektor pertambangan, membuat Mitsubishi Fuso menyoroti potensi persaingan tak sehat di pasar kendaraan niaga Indonesia.
Distributor resmi Mitsubishi Fuso di Indonesia, PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), menilai kondisi ini bisa mengganggu keseimbangan pasar.
“Sektor mining kendalanya tidak hanya soal permintaan tetapi juga saingannya saya bilang mungkin tidak sehat,” ujar Aji Jaya, Sales and Marketing Director KTB.
Aji menduga banyak merek truk China masuk ke Indonesia tanpa mematuhi regulasi, termasuk standar emisi. Indonesia telah menetapkan Euro 4, sementara truk impor itu masih Euro 2.
“Regulasi pemerintah padahal telah menetapkan kendaraan bermesin diesel harus standar Euro 4, kami selalu ikuti itu. Persaingan dalam bisnis biasa, hanya saja selama itu dilakukan fair,” jelas Aji.
Menurutnya, harga murah menjadi alasan konsumen memilih truk Euro 2 untuk sektor tambang. “Kalau Euro 4 harus pakai Dex, mahal. Kalau jadi pengusaha pasti pilih yang lebih murah,” katanya.
Kondisi ini membuat persaingan tak sehat. “Itu dampaknya, pasti konsumen mau pilih yang murah operasionalnya. Tetapi itu masalahnya enggak fair, karena regulasinya kan Euro 4,” lanjutnya.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan distribusi kendaraan niaga Fuso turun 12,5 persen pada Januari-Agustus 2025, menjadi 15.514 unit. Penjualan retail juga merosot 11,4 persen.
Aji menambahkan, kondisi ekonomi yang tidak stabil turut memengaruhi lemahnya pasar otomotif nasional. “Secara umum memang ekonominya sedang tidak baik-baik saja,” katanya.
Ancaman Industri Lokal
Gaikindo menegaskan impor truk untuk kebutuhan tambang semakin meresahkan. Truk China tersebut tidak terdaftar di asosiasi sehingga data penjualannya tidak resmi.
“Sampai Juli ini diperkirakan, kami tidak punya data cukup resmi, itu hampir 7 ribu, sampai akhir tahun bisa sampai 14 ribuan kendaraan komersial,” kata Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gaikindo.
Truk impor tersebut telah menyebar hingga ke Pulau Jawa. Kukuh menilai kehadiran kendaraan ini merugikan industri otomotif Indonesia yang patuh regulasi dan berinvestasi besar.
“Ini yang mengganggu produksi kendaraan bermotor di Indonesia. Pelaku lokal ini memenuhi ketentuan yang ada, namun dikalahkan kendaraan impor yang dapat dengan mudah masuk,” jelasnya.
Gaikindo memperingatkan, bila regulasi tidak ditegakkan, industri kendaraan komersial nasional akan menghadapi tekanan signifikan.