Beritagosip.com Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat di tengah proses negosiasi nuklir yang masih berjalan. Kementerian Pertahanan Amerika Serikat dilaporkan meminta militer menyiapkan pengerahan kapal induk kedua ke kawasan Timur Tengah.
Langkah ini muncul setelah Presiden Donald Trump melontarkan ancaman serangan terhadap Iran. Sejumlah media Amerika Serikat melaporkan adanya instruksi internal terkait penambahan kekuatan militer tersebut.
Media seperti Wall Street Journal, New York Times, dan CBS News menyebut kapal induk USS Gerald R. Ford akan bergabung dalam kelompok tempur. Instruksi itu disebut datang dari pejabat pertahanan Amerika Serikat.
Meski demikian, negosiasi nuklir AS Iran masih terus berlangsung hingga saat ini. Tidak ada informasi rinci mengenai waktu pasti pengerahan kapal induk tersebut.
Para pejabat pertahanan menyatakan proses masih berada pada tahap persiapan. Pernyataan ini dikutip dari laporan AFP pada Jumat, 13 Februari.
USS Gerald R. Ford sebelumnya telah dikerahkan pada Juni lalu. Pengerahan awal dilakukan saat hubungan Amerika Serikat dengan Venezuela mengalami peningkatan ketegangan.
Dalam situasi tersebut, Trump sempat meminta kapal induk itu berlayar ke wilayah perairan Karibia. Kapal tersebut kemudian terlibat dalam operasi militer yang memicu eskalasi serius.
Operasi itu berkaitan dengan agresi Amerika Serikat terhadap Venezuela. Dalam peristiwa tersebut, Presiden Nicolas Maduro dan Ibu Negara Venezuela dilaporkan diculik.
Apabila benar-benar dikirim ke Timur Tengah, USS Gerald R. Ford akan menjadi kapal induk kedua yang dikerahkan Trump ke kawasan tersebut. Penambahan ini memperkuat kehadiran militer Amerika Serikat di wilayah strategis itu.
Sebelumnya, kapal induk pertama telah lebih dulu ditempatkan di kawasan Teluk Persia. Kapal tersebut adalah USS Abraham Lincoln.
Trump mengerahkan USS Abraham Lincoln sebagai bagian dari tekanan terhadap Iran. Langkah ini diambil seiring meningkatnya ketegangan AS Iran.
Saat ini, Amerika Serikat dan Iran masih terlibat dalam negosiasi nuklir AS Iran. Trump menginginkan tercapainya kesepakatan yang sejalan dengan kepentingan Washington.
Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat menilai program nuklir Iran berpotensi membahayakan keamanan regional dan global. Pandangan tersebut terus menjadi dasar tekanan diplomatik dan militer.
Sebaliknya, Iran berulang kali menegaskan program nuklirnya bersifat damai. Pemerintah Iran menyatakan seluruh aktivitas nuklir dilakukan untuk kepentingan sipil.
Iran juga menolak negosiasi yang dilakukan di bawah ancaman militer. Teheran menegaskan tidak akan menyepakati perjanjian apa pun dalam situasi tekanan.
Di tengah jeda pembicaraan, Trump terus melontarkan pernyataan keras. Ia menegaskan Amerika Serikat siap menyerang Iran jika negosiasi nuklir gagal mencapai kesepakatan.