Beritagosip.com Stok rudal AS menipis memasuki hari kelima perang AS lawan Iran pada Rabu (4/3). Laporan menyebut Washington mulai kekurangan sejumlah persenjataan penting. Rudal serang darat Tomahawk dan rudal pencegat SM-3 termasuk dalam daftar yang tertekan.
Seorang pejabat senior Amerika Serikat membocorkan bahwa serangan ke Iran diperkirakan meningkat dalam 24 jam ke depan. Di saat bersamaan, ia mengakui stok rudal AS menipis seiring intensitas operasi militer.
The Middle East Monitor (MEMO) melaporkan fase pertama serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari berhasil melemahkan pertahanan Iran. Fase lanjutan diprediksi menyasar fasilitas produksi rudal, drone, dan kekuatan angkatan laut Iran.
Operasi ini berlangsung ketika Pentagon sudah menghadapi keterbatasan rudal Patriot. Sebagian besar rudal Patriot dialihkan untuk mendukung pertahanan udara Ukraina selama empat tahun konflik melawan Rusia. Kondisi tersebut mempercepat situasi stok rudal AS menipis.
Pejabat yang sama mengindikasikan jika perang AS lawan Iran melewati 10 hari, sejumlah persediaan vital bisa benar-benar menyusut drastis. Al Jazeera juga menyebut Pentagon telah memperingatkan Presiden Donald Trump soal risiko operasi berkepanjangan. Risiko itu mencakup biaya besar untuk mengisi ulang amunisi yang terus terkuras.
Sejumlah analis menyatakan beberapa jenis rudal pencegat mungkin sudah terbatas sejak awal. Rudal pencegat SM-3 dan sistem lain menjadi komponen krusial dalam menghadapi serangan balasan.
Jika konflik terus berjalan, kekurangan paling mungkin terjadi pada amunisi presisi dan sistem pertahanan seperti sistem THAAD. Amunisi tersebut mencakup Joint Direct Attack Munitions (JDAM), perangkat berbasis GPS yang mengubah bom biasa menjadi presisi tinggi.
Satu baterai sistem THAAD biasanya diawaki 95 personel. Unit ini memiliki enam peluncur di atas truk, 48 rudal pencegat, satu radar, serta sistem kendali tembakan dan komunikasi. Hingga pertengahan 2025, terdapat sembilan baterai aktif di dunia menurut Lockheed Martin.
Pada 2024, koresponden Al Jazeera Mike Hanna melaporkan satu baterai sistem THAAD bernilai antara 1 miliar hingga 1,8 miliar dolar AS. Angka itu menunjukkan mahalnya sistem pertahanan modern.
Perakitan rudal Patriot, rudal pencegat SM-3, dan sistem lain memerlukan waktu berbulan-bulan. Setelah produksi, proses integrasi dan pengujian tetap memakan waktu panjang. Distribusi melalui laut dan udara serta penempatan operasional menambah durasi tambahan.
Para ahli menjelaskan sistem pertahanan canggih dirancang untuk menghadapi serangan terbatas berintensitas tinggi dari negara seperti Rusia, China, atau Korea Utara. Sistem tersebut tidak disiapkan untuk rentetan serangan besar dan berkepanjangan dengan rudal berbiaya rendah.
Seiring waktu, stok rudal AS menipis dapat memicu tekanan biaya besar. Setiap intersepsi bisa menelan ratusan ribu hingga jutaan dolar, sementara rudal lawan mungkin diproduksi dengan biaya jauh lebih murah.
Peneliti senior Stimson Center, Christopher Preble, menyatakan Amerika Serikat mampu menanggung biaya perang secara finansial. Namun, kendala utama berada pada ketersediaan rudal Patriot dan SM-6.
Ia menegaskan AS tidak bisa mengandalkan intersepsi tanpa batas untuk menghadapi serangan balasan Iran dan milisinya. Menurutnya, laju operasi saat ini sulit dipertahankan lebih dari beberapa pekan.
Produksi pengganti tidak bisa berlangsung instan. Rudal Patriot dan SM-6 merupakan perangkat kompleks yang memerlukan proses panjang sebelum siap digunakan.
Meski begitu, Trump tetap bersikeras bahwa persediaan berada pada level tinggi. Ia menulis di Truth Social bahwa stok amunisi Amerika Serikat pada tingkat menengah dan atas-menengah tidak pernah lebih baik. Trump bahkan menyebut pasokan tersebut hampir tak terbatas.
Ia juga menyatakan perang AS lawan Iran dapat berlangsung lama dan tetap berhasil dengan persediaan yang ada. Sebelumnya, Trump memproyeksikan konflik berlangsung empat hingga lima pekan, tetapi membuka kemungkinan durasi lebih panjang.