Beritagosip.com Harga minyak dunia tembus US$100 per barel pada Minggu (8/3). Lonjakan ini terjadi setelah perang AS Israel Iran memicu kekhawatiran besar di pasar energi global. Kenaikan tersebut juga menjadi level tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Lonjakan harga minyak mentah muncul seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak konflik tersebut. Banyak pelaku pasar memperkirakan perang AS Israel Iran dapat mengganggu distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.
Kondisi ini memicu kekhawatiran mengenai pembatasan aliran energi global. Dampak harga minyak dunia pun langsung terlihat pada pergerakan pasar keuangan.
Harga minyak Brent sebagai acuan global mencatat kenaikan tajam. Harga minyak Brent melonjak 12,63 persen hingga mencapai US$104 per barel.
Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat mencatat kenaikan lebih besar. Harga minyak tersebut naik sekitar 14,7 persen dalam periode yang sama.
Lonjakan harga minyak mentah juga mengguncang beberapa indeks saham utama Amerika Serikat. Pasar saham mengalami tekanan akibat kekhawatiran terhadap guncangan pasar energi.
Indeks Dow Jones turun 851,6 poin atau sekitar dua persen. Indeks S&P 500 dan Nasdaq juga melemah dengan penurunan masing-masing 1,73 persen dan 1,65 persen.
Penurunan tersebut terjadi karena pelaku pasar khawatir terhadap dampak harga minyak dunia tembus US$100 terhadap inflasi di Amerika Serikat. Pasar energi yang tidak stabil dapat memicu tekanan harga di berbagai sektor ekonomi.
Lonjakan harga minyak mentah dan gas dalam jangka panjang juga berpotensi memperburuk masalah biaya hidup di Amerika. Kondisi ini dapat menimbulkan tekanan politik bagi pemerintahan Presiden AS Donald Trump dan Partai Republik.
Situasi tersebut muncul menjelang pemilihan paruh waktu atau midterm elections tahun ini. Isu ekonomi sering menjadi faktor penting dalam dinamika politik domestik Amerika.
Pada Minggu (8/3), pemerintahan Trump mencoba meredakan kekhawatiran publik. Mereka menegaskan bahwa kampanye militer yang dipimpin AS dan Israel tidak akan memberikan dampak jangka panjang pada harga bahan bakar.
Trump menyampaikan pandangannya dalam wawancara dengan ABC News. Ia menyebut lonjakan harga bensin hanya sebagai gangguan kecil.
Trump juga menggambarkan lonjakan harga minyak dunia tembus US$100 sebagai pengalihan atau detour yang telah diproyeksikan sebelumnya.
Dalam program “State of the Union” di CNN, Menteri Energi AS Chris Wright menyampaikan pernyataan tambahan. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak berencana menyerang industri minyak Iran.
Wright juga mengatakan bahwa fasilitas energi atau infrastruktur minyak Iran tidak menjadi target operasi militer.
Namun, pejabat senior Iran menyampaikan peringatan keras mengenai perkembangan konflik tersebut. Ia menyebut situasi saat ini telah memasuki fase baru setelah serangan Israel.
Pejabat tersebut memberi sinyal kemungkinan serangan terhadap infrastruktur energi regional. Serangan itu dapat terjadi dalam beberapa hari mendatang sebagai bentuk balasan.
Ia juga menyatakan bahwa Iran tidak akan melepas kendali atas Selat Hormuz sampai target tertentu tercapai. Pernyataan ini meningkatkan kekhawatiran pasar energi global.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran sempit yang dikendalikan Iran. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintas melalui wilayah tersebut.
Iran sebelumnya telah mengancam akan menyerang kapal tanker yang melintas di jalur tersebut. Ancaman itu berpotensi menghentikan lalu lintas minyak di Selat Hormuz.
Gangguan tersebut dapat memicu dampak harga minyak dunia yang lebih luas. Para produsen minyak bahkan menghadapi keterbatasan ruang penyimpanan minyak yang mereka produksi.
Kondisi ini mendorong sejumlah produsen untuk mulai mengurangi volume produksi. Langkah tersebut terjadi karena distribusi energi menghadapi ketidakpastian tinggi.
Di Indonesia, pemerintah juga memantau dampak harga minyak dunia tembus US$100 terhadap anggaran negara. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyatakan pemerintah telah melakukan simulasi risiko.
Simulasi tersebut menguji dampak lonjakan harga minyak mentah terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Perhitungan Kementerian Keuangan menunjukkan tekanan fiskal dapat muncul jika harga minyak rata-rata mencapai US$92 per barel sepanjang tahun. Angka tersebut jauh di atas asumsi harga minyak dalam APBN yang berada di sekitar US$60 per barel.
Purbaya menyatakan bahwa skenario tersebut dapat memperlebar defisit anggaran negara. Dalam simulasi tersebut, defisit APBN berpotensi mencapai sekitar 3,6 persen terhadap produk domestik bruto.