Beritagosip.com Upaya pemerintahan Donald Trump untuk menekan harga minyak di tengah konflik dengan Iran belum memberikan dampak besar. Situasi ini membuat Trump makin pusing Iran ngeyel di tengah perang antara AS, Israel, dan Iran.
Laporan dari CNBC International menyebut warga Amerika Serikat kini harus membayar lebih mahal untuk bahan bakar. Data terbaru menunjukkan harga BBM di AS naik sekitar 23% per galon meskipun terdapat rencana pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis global.
Kondisi tersebut muncul di tengah meningkatnya konflik AS Israel Iran yang menekan pasar energi dunia. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebelumnya telah memicu lonjakan harga minyak dunia naik secara tajam.
Trump sebelumnya mengeluarkan pernyataan keras terhadap Iran. Ia menyebut Amerika Serikat siap melancarkan serangan besar sebagai respons terhadap situasi tersebut.
Pernyataan itu disampaikan setelah harga minyak global melonjak akibat penutupan jalur pelayaran penting tersebut. Pemerintah AS menilai langkah militer diperlukan untuk membantu menurunkan tekanan harga energi.
Sejak saat itu, pemerintahan Trump telah menjalankan sejumlah langkah untuk meredam dampak kenaikan harga minyak. Namun berbagai kebijakan tersebut belum mampu menurunkan harga BBM di AS naik yang masih bertahan di level tinggi.
Seiring berlanjutnya konflik AS Israel Iran, semakin terlihat bahwa pemerintah Amerika Serikat maupun negara lain memiliki keterbatasan dalam meredakan lonjakan harga minyak.
Perkembangan terbaru menunjukkan Amerika Serikat meluncurkan serangan AS ke Pulau Kharg, yang terletak dekat Selat Hormuz. Pulau tersebut selama ini dikenal sebagai pusat utama ekspor minyak Iran.
Sebagian besar minyak mentah Iran biasanya dimuat dari lokasi itu sebelum dikirim ke berbagai negara pembeli. Serangan tersebut menargetkan markas militer Iran yang berada di wilayah tersebut.
Melalui serangan AS ke Pulau Kharg, Washington diyakini berupaya membatasi kemampuan Iran dalam meluncurkan serangan rudal terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Selain itu, Trump juga menyampaikan ancaman untuk menghancurkan infrastruktur minyak di Pulau Kharg jika situasi konflik terus meningkat.
Trump kemudian menyatakan bahwa militer Amerika Serikat akan melakukan pengawalan terhadap kapal-kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Langkah ini dimaksudkan agar pasokan minyak dunia tidak mengalami gangguan.
Ketika ditanya mengenai rencana pengawalan tersebut, Trump menyatakan bahwa kebijakan itu akan segera dijalankan.
Langkah agresif tersebut dilakukan untuk meningkatkan pasokan minyak di pasar global. Pemerintah Amerika Serikat menilai stabilitas pasokan menjadi faktor penting untuk menekan harga minyak dunia naik.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga menghadapi risiko berkurangnya cadangan minyak domestik. Jika kondisi tersebut terjadi, tekanan politik terhadap Trump diperkirakan semakin meningkat.
Situasi itu menjadi lebih sensitif karena sebagian masyarakat Amerika Serikat sejak awal tidak mendukung perang melawan Iran.
Sementara itu, kenaikan harga energi sudah mulai terasa di pasar domestik Amerika Serikat. Data terbaru menunjukkan harga bensin biasa per galon pada Jumat (13/3) lebih mahal US$0,69 dibandingkan harga satu bulan sebelumnya.
Kenaikan tersebut setara dengan peningkatan sekitar 23%, memperkuat kondisi harga BBM di AS naik dalam waktu singkat.
Pergerakan harga minyak dunia naik juga terlihat pada harga minyak mentah di pasar Amerika Serikat. Pada pertengahan Februari, harga minyak tercatat sekitar US$63 per barel.
Namun pada Jumat siang, harga tersebut melonjak hingga sekitar US$97 per barel.
Tekanan terhadap Trump diperkirakan bertambah setelah Iran merespons tindakan militer Amerika Serikat. Tidak lama setelah serangan AS ke Pulau Kharg, Iran memberikan peringatan balasan.
Pemerintah Iran menyatakan siap menyerang fasilitas minyak dan energi di kawasan yang dimiliki perusahaan Amerika Serikat atau yang bekerja sama dengan Washington.
Ancaman tersebut akan dilakukan jika Amerika Serikat benar-benar menyerang infrastruktur minyak milik Teheran.
Situasi ini menambah ketegangan dalam konflik AS Israel Iran, sekaligus memperkuat tekanan terhadap pasar energi global dan membuat Trump makin pusing Iran ngeyel di tengah lonjakan harga BBM di AS naik.