Beritagosip.com Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak tawaran teknologi drone dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Keputusan ini memicu sorotan karena muncul saat konflik Timur Tengah terus meningkat.
Penolakan tersebut berkaitan dengan teknologi deteksi drone Iran yang sebelumnya ditawarkan Kyiv. Zelensky menyampaikan tawaran itu sebagai dukungan bagi Amerika Serikat dan beberapa negara Timur Tengah yang menghadapi ancaman serangan drone Iran.
Namun, Trump klaim tak butuh bantuan Zelensky dan menanggapi tawaran tersebut dengan nada sinis. Ia menegaskan bahwa Washington tidak memerlukan dukungan teknologi dari pemerintah Ukraina.
Dalam wawancara bersama pembawa acara “Meet the Press”, Kristen Welker, pada Sabtu (14/3/2026), Trump menyatakan penolakan secara terbuka. Ia menanggapi langsung tawaran teknologi deteksi drone Iran yang sebelumnya disampaikan Zelensky.
Presiden Ukraina menyebut sejumlah negara Timur Tengah meminta bantuan Kyiv. Permintaan itu berkaitan dengan teknologi deteksi drone Shahed Iran yang juga dipakai Rusia dalam perang Rusia Ukraina.
Trump memberikan respons keras saat menanggapi isu tersebut. “Orang terakhir yang kami butuhkan bantuannya adalah Zelensky,” kata Trump kepada Welker.
Pernyataan itu muncul ketika konflik Timur Tengah semakin memanas. Ketegangan meningkat setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Setelah serangan tersebut, Teheran melancarkan serangan balasan ke negara-negara di kawasan sekitarnya. Target utama mencakup aset militer milik Amerika Serikat dan Israel.
Perang di kawasan itu kini memasuki minggu ketiga. Intensitas konflik Timur Tengah terus meningkat selama periode tersebut.
Pemerintahan Trump berulang kali menyatakan kemenangan dalam operasi militer tersebut. Namun, serangan dari Amerika Serikat dan Israel tetap berlangsung dalam beberapa hari terakhir.
Sebagai respons, pasukan Iran disebut menutup sebagian besar jalur Selat Hormuz. Penutupan ini memicu gangguan pada lalu lintas pengiriman global.
Konflik berkepanjangan tersebut juga berpotensi menjadi isu politik penting bagi Trump. Situasi ini muncul pada tahun kedua masa kepresidenannya.
Beberapa politisi Partai Republik mulai mendesak langkah penyelesaian konflik. Dorongan tersebut datang bahkan dari tokoh yang berada di dalam pemerintahannya.
Mereka meminta pemerintahan Trump mencari jalan keluar dan mengakhiri perang. Kekhawatiran muncul karena dampak konflik Timur Tengah terhadap ekonomi Amerika Serikat.
Di sisi lain, Partai Demokrat terus mengkritik perang tersebut. Mereka menilai operasi militer itu sebagai tindakan ilegal.
Meski demikian, sebagian tokoh konservatif di dalam partai tersebut menyatakan dukungan terhadap tujuan perang. Perbedaan pandangan ini memperlihatkan dinamika politik di Washington.
Hubungan Trump Zelensky juga telah lama dikenal tidak harmonis. Ketegangan antara kedua pemimpin sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu.
Laporan The Independent menyebut konflik tersebut berakar dari kedekatan Zelensky dengan mantan Presiden AS Joe Biden. Situasi itu memperburuk hubungan Trump Zelensky dalam arena politik internasional.
Ketegangan semakin tajam ketika Zelensky menolak membantu pemerintahan Trump pertama. Penolakan itu berkaitan dengan upaya memperoleh informasi yang dapat merusak reputasi Biden menjelang pemilu 2020.
Trump akhirnya kalah dari kandidat Demokrat dalam pemilu tersebut. Peristiwa tersebut juga memicu proses pemakzulan pertama terhadap dirinya oleh DPR Amerika Serikat.
Hubungan Trump Zelensky kembali memanas pada awal tahun lalu. Insiden itu terjadi ketika Trump dan Wakil Presiden JD Vance bertemu Zelensky di Gedung Putih.
Pertemuan tersebut berubah menjadi konfrontasi terbuka. Ketiganya terlibat perdebatan keras di depan kamera dan mengejutkan para jurnalis yang hadir.
Trump dan Vance menuduh Zelensky mempertaruhkan risiko “Perang Dunia Ketiga”. Tuduhan itu muncul selama pertemuan yang berubah menjadi adu argumen.
Dalam wawancara yang sama, Trump juga menyinggung isu perang Rusia Ukraina. Ia menyalahkan Zelensky atas kegagalan tercapainya kesepakatan damai antara Kyiv dan Moskwa.
Trump menilai Presiden Rusia Vladimir Putin sebenarnya bersedia mencapai kesepakatan. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari kritik terhadap kepemimpinan Zelensky.
“Saya terkejut Zelensky tidak ingin membuat kesepakatan. Katakan pada Zelensky untuk membuat kesepakatan karena Putin bersedia membuat kesepakatan,” ujar Trump.
Ia juga menilai proses negosiasi menjadi lebih sulit karena sikap Zelensky. Menurut Trump, pemimpin Ukraina tersebut tidak mudah diajak mencapai kesepakatan.
“Zelensky jauh lebih sulit diajak membuat kesepakatan,” lanjutnya.
Perang Rusia Ukraina telah berlangsung selama empat tahun. Konflik tersebut terus memengaruhi stabilitas geopolitik global.
Pemerintahan Trump sebelumnya mencoba menengahi perjanjian damai. Pemerintahannya bahkan sempat mengklaim kesepakatan hampir tercapai.
Namun, upaya tersebut tidak menghasilkan hasil konkret. Negosiasi antara kedua negara tetap menghadapi berbagai hambatan besar.
Salah satu tuntutan Rusia adalah larangan bagi Ukraina untuk bergabung dengan NATO. Moskwa juga meminta Ukraina tidak terhubung dengan pasukan keamanan Eropa.
Selain itu, Rusia menuntut sejumlah wilayah sebagai bagian dari kesepakatan damai. Sebagian wilayah yang diminta Moskwa masih berada di bawah kendali pasukan Ukraina.
Pemerintah Ukraina di bawah Zelensky menolak tuntutan tersebut. Kyiv menegaskan tidak akan menyerahkan wilayah yang masih dikuasai militernya.
Situasi tersebut membuat negosiasi perang Rusia Ukraina tetap buntu. Ketegangan antara Kyiv dan Moskwa pun terus berlanjut hingga saat ini.