Beritagosip.com India menghadapi tekanan besar pada sektor energi akibat konflik geopolitik. Situasi ini memicu krisis LPG India yang disebut sebagai yang terburuk dalam beberapa dekade.
Gangguan ini terjadi setelah pengiriman melalui Selat Hormuz hampir terhenti. Kondisi tersebut dipicu konflik perang AS Israel Iran LPG yang berlangsung sejak awal Ramadan atau Februari tahun ini.
Sebelumnya, India mengandalkan impor energi dari Timur Tengah dalam jumlah besar. Lebih dari 40 persen minyak mentah dan 90 persen LPG berasal dari kawasan tersebut, sehingga impor energi India Timur Tengah menjadi sangat krusial.
Sejumlah kapal tanker dilaporkan masih tertahan di Selat Hormuz. Empat kapal membawa 1,6 juta metrik ton minyak mentah. Enam kapal lain mengangkut 320.000 ton LPG. Satu kapal tambahan membawa 200.000 ton LPG, memperparah pasokan LPG India terganggu.
Pemerintah India segera mengambil langkah darurat untuk mengatasi situasi ini. Penyulingan diperintahkan untuk memaksimalkan produksi LPG guna menekan dampak krisis energi India.
Penjualan LPG ke sektor industri juga dikurangi. Kebijakan ini diambil untuk memastikan kebutuhan sekitar 333 juta rumah tangga tetap terpenuhi di tengah krisis LPG India.
Pemerintah turut mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian panik. Konsumen juga didorong beralih ke gas alam pipa jika memungkinkan, sebagai respons terhadap pasokan LPG India terganggu.
Dalam dua pekan terakhir, sebanyak 120.000 sambungan gas pipa baru telah ditambahkan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi mengurangi tekanan akibat krisis energi India.
Di ibu kota Delhi, pemasangan jalur pipa gas meningkat signifikan. Lonjakan ini dipicu kekhawatiran masyarakat terhadap kelangkaan LPG akibat perang AS Israel Iran LPG.
Selain itu, penggunaan kompor listrik mulai didorong pemerintah. Sektor makanan dan perhotelan menjadi target utama kebijakan ini untuk mengurangi konsumsi LPG.
Di Negara Bagian Karnataka, kekurangan LPG komersial mulai terasa. Stok yang tersedia hanya sekitar 1.000 tabung untuk restoran, hotel, dan sektor industri lainnya.
Pemerintah daerah meminta pelaku usaha untuk sementara beralih ke listrik selama sepekan. Kebijakan ini dilakukan guna menjaga stabilitas pasokan LPG India terganggu.
Distribusi LPG domestik tetap dijaga sebagai prioritas utama. Pemerintah pusat hanya mengalokasikan 20 persen untuk tabung komersial, jauh di bawah kebutuhan harian sebesar 44.000.
Pemerintah daerah juga mengatur distribusi sekitar 9.000 tabung tambahan. Prioritas diberikan kepada rumah sakit, asrama, pusat transportasi, dan sektor penting lainnya.
Di tengah kondisi ini, aparat kepolisian melakukan operasi terhadap praktik kecurangan penjualan LPG. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas distribusi selama krisis LPG India berlangsung.
Dampak konflik tidak hanya dirasakan India. Sejumlah negara di Asia juga menghadapi tekanan serupa akibat gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Bangladesh meningkatkan pembangkit listrik tenaga batu bara serta impor listrik berbasis batu bara. Langkah ini diambil untuk menjaga pasokan energi tetap stabil.
Pakistan juga berupaya meningkatkan penggunaan sumber energi domestik. Penambahan tenaga surya membantu negara tersebut mengurangi ketergantungan pada LNG.
Di Asia Tenggara, Filipina meningkatkan produksi listrik tenaga batu bara dan mengurangi penggunaan LNG. Vietnam mulai menegosiasikan tambahan pasokan batu bara untuk mengantisipasi gangguan energi.
Thailand meningkatkan produksi dari pembangkit listrik tenaga batu bara terbesar. Kebijakan ini dilakukan untuk menghemat penggunaan LNG di tengah ketidakpastian pasokan.
Korea Selatan berencana menghapus batasan produksi listrik tenaga batu bara dan meningkatkan energi nuklir. Jepang melalui perusahaan utilitas JERA juga mempertahankan tingkat penggunaan batu bara yang tinggi.
Situasi ini menunjukkan bahwa krisis energi India merupakan bagian dari dampak lebih luas konflik geopolitik. Gangguan tersebut mulai mengubah strategi energi di berbagai negara Asia.