Beritagosip.com – Inggris Selat Hormuz menjadi perhatian setelah rencana pengerahan kapal drone sapu ranjau disiapkan untuk menjaga keamanan jalur pelayaran strategis tersebut. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pembersihan ranjau laut di kawasan yang sensitif.
Pemerintah Inggris tengah menyiapkan kapal evakuasi Angkatan Laut yang dilengkapi teknologi canggih. Kapal drone sapu ranjau ini dirancang untuk mendeteksi serta menetralisir ancaman di dasar laut.
Salah satu aset utama dalam rencana ini adalah RFA Lyme Bay. Kapal tersebut sebelumnya menjalani perawatan rutin di Gibraltar dan direncanakan bergerak ke wilayah Mediterania untuk latihan.
Namun, dalam perkembangan terbaru, RFA Lyme Bay masuk dalam rencana darurat untuk dikerahkan ke Selat Hormuz. Keputusan ini telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Pertahanan Inggris.
Dalam operasinya, kapal drone sapu ranjau ini akan membawa sistem pembersihan ranjau laut otonom. Teknologi tersebut mencakup drone bawah air dan kapal pemburu ranjau yang mampu melakukan pemindaian dasar laut secara efektif.
Kemampuan tersebut memungkinkan RFA Lyme Bay berfungsi sebagai pusat operasi. Kapal ini dapat digunakan sebagai induk bagi Royal Navy drone dalam menjalankan misi pembersihan ranjau laut.
Langkah ini disebut sebagai upaya pencegahan untuk menjaga arus pelayaran tetap normal. Inggris Selat Hormuz dinilai penting karena jalur tersebut menjadi salah satu rute perdagangan global utama.
Meski rencana telah disiapkan, keputusan resmi terkait pengerahan ke Selat Hormuz belum diumumkan. Pemerintah masih mempertimbangkan berbagai faktor strategis sebelum mengambil langkah final.
Sementara itu, unit Royal Navy drone yang sudah berada di kawasan tersebut juga masuk dalam pertimbangan untuk dikerahkan. Unit ini diharapkan dapat memperkuat operasi kapal drone sapu ranjau.
RFA Lyme Bay sendiri memiliki kapasitas besar dengan kemampuan membawa hingga 500 personel. Kapal ini juga dilengkapi sistem medis serta persenjataan untuk mendukung berbagai misi.
Di sisi lain, tekanan terhadap Inggris Selat Hormuz meningkat setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ia menyatakan ketidakpuasannya terhadap respons Inggris dalam menangani krisis di Timur Tengah.
Trump menilai Inggris perlu mengambil peran lebih aktif. Ia mendorong keterlibatan yang lebih kuat dalam upaya menjaga akses dan keamanan jalur Selat Hormuz.
Situasi ini menegaskan pentingnya pembersihan ranjau laut di kawasan tersebut. Keamanan jalur pelayaran tetap menjadi prioritas utama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.