Beritagosip.com Blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat muncul setelah kebuntuan negosiasi dengan Iran. Kebijakan ini membuat akses jalur perdagangan strategis menjadi terbatas. Dampak blokade AS langsung terasa pada aktivitas pelayaran, termasuk kapal Iran dan kapal asing yang diizinkan melintas.
Blokade Selat Hormuz memungkinkan armada tempur AS mengontrol pergerakan kapal di jalur tersebut. Kapal yang melintas dapat diminta kembali ke Teluk Persia atau Teluk Oman. Dampak blokade AS ini meningkatkan ketegangan dan menimbulkan ketidakpastian dalam perdagangan internasional.
Dampak blokade AS paling terlihat pada ekspor minyak Iran. Selat Hormuz menjadi jalur utama distribusi energi global, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati wilayah ini. Ekspor minyak Iran melalui jalur ini mencapai sekitar 80 persen dari total pengiriman.
Ekspor minyak Iran menunjukkan peningkatan dalam periode konflik. Data menunjukkan pengiriman mencapai 1,84 juta barel per hari pada Maret dan 1,71 juta barel per hari pada April. Rata-rata ekspor harian sepanjang 2025 berada di kisaran 1,68 juta barel. Fakta ini menegaskan pentingnya Selat Hormuz bagi ekonomi Iran.
Harga minyak Iran tetap tinggi selama periode tersebut. Nilai per barel tidak turun di bawah US$90 dan sempat melampaui US$100. Dengan asumsi harga US$90, pendapatan bulanan Iran dari minyak mencapai sekitar US$4,97 miliar. Sebelumnya, pendapatan hanya sekitar US$3,45 miliar per bulan. Dampak blokade AS berpotensi menekan capaian ini secara signifikan.
Blokade Selat Hormuz diperkirakan akan mengurangi kapasitas ekspor minyak Iran. Para analis menilai Iran tidak dapat mempertahankan volume ekspor seperti sebelumnya. Selain itu, pendapatan dari pungutan kapal yang melintas juga ikut terpengaruh.
Perdagangan Iran tidak hanya bergantung pada minyak. Komoditas lain seperti petrokimia, plastik, dan produk pertanian juga dikirim melalui jalur ini. Dampak blokade AS turut memengaruhi arus barang tersebut ke negara tujuan seperti China dan India.
Barang impor juga terdampak oleh blokade Selat Hormuz. Mesin industri, elektronik, dan bahan pangan banyak berasal dari China, Uni Emirat Arab, dan Turki. Gangguan distribusi menyebabkan tekanan tambahan pada ekonomi Iran.
Data perdagangan menunjukkan aktivitas non-minyak mencapai US$94 miliar dalam periode Maret 2025 hingga Januari. Impor yang lebih besar dibanding ekspor menciptakan defisit perdagangan. Dampak blokade AS memperbesar tekanan pada kondisi ini.
Gangguan perdagangan non-hidrokarbon memberikan dampak luas. Pendapatan negara menurun dan pasokan domestik tertekan. Kondisi ini memperburuk situasi ekonomi Iran yang telah menghadapi sanksi sebelumnya.
Sebagai respons, Iran mengembangkan rute alternatif bersama China. Jalur kereta api melalui Asia Tengah digunakan untuk mengurangi ketergantungan pada jalur laut. Negara seperti Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan menjadi bagian dari rute ini.
Penggunaan jalur darat memberikan opsi tambahan dalam perdagangan Iran. Kereta barang dari Xi’an ke Iran menandai implementasi jalur langsung antara kedua negara. Namun, pengangkutan energi melalui jalur ini menghadapi kendala logistik.
Blokade Selat Hormuz tetap menjadi faktor utama yang menentukan stabilitas ekonomi Iran. Ketidakpastian durasi kebijakan ini membuat prospek sulit diprediksi. Dampak blokade AS dapat berubah sesuai dinamika geopolitik.
Situasi ini juga melibatkan kepentingan negara lain. Sebagian besar ekspor minyak Iran ditujukan ke China. Kondisi ini membuat respons internasional menjadi faktor penting dalam perkembangan konflik.
Ketegangan di kawasan berpotensi meningkat. Iran merespons dengan ancaman penutupan jalur lain seperti Bab al Mandab. Langkah ini menunjukkan bahwa dampak blokade AS tidak hanya terbatas pada Selat Hormuz, tetapi juga dapat meluas ke jalur perdagangan global lainnya.