Beritagosip.com Iran menetapkan aturan baru terkait lalu lintas kapal di Selat Hormuz selama masa gencatan senjata. Kebijakan ini diumumkan oleh Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
Langkah tersebut diambil setelah Iran menyatakan membuka kembali jalur pelayaran internasional. Pembukaan dilakukan dengan syarat adanya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Kesepakatan tersebut tercapai dalam pertemuan antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun. Gencatan senjata disepakati berlangsung selama 10 hari.
Dalam kebijakan terbaru, terdapat empat syarat utama yang harus dipatuhi kapal yang ingin melintas:
Pertama, kapal sipil hanya diperbolehkan melewati jalur yang telah ditentukan oleh Iran.
Kedua, kapal militer tetap dilarang melintasi Selat Hormuz.
Ketiga, seluruh pergerakan kapal wajib mendapatkan izin dari Angkatan Laut IRGC.
Keempat, aktivitas pelayaran harus mengikuti ketentuan masa tenang sesuai implementasi gencatan senjata di Lebanon.
Sebelumnya, sumber yang dekat dengan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengungkap adanya kesepakatan dengan Amerika Serikat terkait lalu lintas kapal selama gencatan senjata dua minggu.
Dalam kesepakatan awal, Iran berencana mengizinkan sejumlah kapal melintas setiap hari. Namun, rencana tersebut tertunda karena implementasi gencatan senjata di Lebanon dinilai tidak berjalan sesuai harapan.
Ketidakterlibatan beberapa pihak dalam kesepakatan menjadi faktor utama penundaan tersebut. Iran kemudian memilih menangguhkan pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Situasi kembali berubah ketika Iran sempat membuka jalur tersebut. Namun, hanya beberapa jam setelah dibuka, otoritas militer Iran kembali menutup Selat Hormuz.
Penutupan dilakukan setelah Iran menuduh Amerika Serikat masih menjalankan blokade terhadap pelabuhan mereka.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan tetap terbuka jika tekanan tersebut terus berlanjut.
Ia juga menyatakan bahwa akses ke jalur strategis itu sepenuhnya bergantung pada izin dari Iran.
Kondisi ini menunjukkan bahwa Selat Hormuz tetap menjadi titik krusial dalam dinamika geopolitik global. Kebijakan Iran terkait jalur ini akan terus memengaruhi stabilitas distribusi energi dunia.