Beritagosip.com Sejumlah ilmuwan memprediksi tahun 2026 akan menjadi salah satu periode dengan suhu tertinggi secara global. Fenomena El Nino yang diperkirakan menguat menjadi faktor utama peningkatan suhu tersebut.
Data suhu yang dihimpun dari lima kelompok penelitian serta analisis lingkungan Carbon Brief menunjukkan bahwa tahun 2026 berpotensi menjadi tahun terpanas kedua yang pernah tercatat. Kenaikan suhu global diperkirakan berlangsung sepanjang tahun, terutama saat memasuki musim gugur yang berpotensi menghadirkan El Nino dengan intensitas sangat kuat.
Fenomena pemanasan di wilayah Pasifik tropis tersebut memengaruhi pola cuaca global. Dampaknya dapat berupa kekeringan, banjir, hingga gelombang panas laut yang lebih ekstrem.
Model iklim terbaru menunjukkan perkiraan median kenaikan suhu global hingga 2,2 derajat Celcius pada September mendatang. Kondisi ini dinilai berpotensi menempatkan dunia dalam ancaman El Nino dengan kategori sangat kuat.
Peningkatan suhu diperkirakan berlanjut setelah September. Secara umum, puncak El Nino terjadi pada periode November hingga Januari. Jika skenario El Nino kuat terjadi, maka tahun berikutnya berpotensi mencatat suhu yang lebih tinggi lagi.
Dalam upaya memahami fenomena ini, para ilmuwan terus mengembangkan metode prediksi yang lebih akurat. Selama ini, memprediksi kekuatan El Nino sejak awal tahun tergolong sulit karena membutuhkan data tambahan dalam beberapa bulan berikutnya.
Namun, penelitian terbaru dari University of Hawaii menghadirkan pendekatan berbeda. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Geophysical Research Letters mengandalkan pengamatan suhu dan ketinggian permukaan laut sebagai dasar analisis.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa perubahan permukaan laut dapat mengindikasikan penumpukan panas di wilayah Pasifik tropis. Selain itu, anomali suhu permukaan laut global, termasuk di luar Pasifik, turut memengaruhi perkembangan El Nino atau La Nina.
Dengan memanfaatkan data historis dari kedua indikator tersebut, para peneliti menguji model komputer untuk memprediksi kekuatan El Nino. Hasilnya menunjukkan tingkat akurasi yang cukup tinggi hingga sekitar 15 bulan ke depan.
Model terbaru memperkirakan anomali suhu lebih dari 2 derajat Celcius di wilayah Pasifik timur Khatulistiwa menjelang akhir tahun. Kondisi ini mengindikasikan potensi terbentuknya El Nino kuat yang dapat berdampak luas terhadap sistem iklim global.