Beritagosip.com Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, disebut telah menguras hingga separuh stok rudal militer negaranya dalam operasi serangan terhadap Iran.
Peringatan tersebut disampaikan oleh pakar pertahanan Mark F Cancian dan Chris H Park dari Center for Strategic and International Studies (CSIS). Mereka menilai kondisi ini dapat meningkatkan kerentanan Amerika Serikat jika terjadi konflik dengan negara kuat lain, termasuk China.
Dalam operasi militer yang disebut Operation Epic Fury, Amerika Serikat menggunakan berbagai jenis rudal andalan seperti Tomahawk, Patriot, JASSM, serta THAAD.
Analisis terhadap tujuh jenis rudal utama yang digunakan oleh Pentagon menunjukkan bahwa persediaan masih cukup untuk melanjutkan konflik dalam jangka pendek.
Namun, risiko utama muncul jika perang berlangsung dalam waktu panjang. Cancian dan Park menilai konflik berkepanjangan dapat menguras kemampuan militer secara signifikan.
Berdasarkan data penggunaan selama 39 hari konflik dengan Iran sebelum gencatan senjata, mereka memperkirakan lebih dari setengah stok rudal telah digunakan.
Upaya untuk memulihkan persediaan ke tingkat sebelum perang diperkirakan membutuhkan waktu antara satu hingga empat tahun, bergantung pada proses produksi dan pengiriman yang sedang berjalan.
Selain itu, rudal-rudal tersebut juga dipandang krusial untuk potensi konflik di kawasan Pasifik Barat, terutama dalam menghadapi dinamika kekuatan dengan China.
Bahkan sebelum konflik dengan Iran, para analis menilai persediaan senjata Amerika Serikat sudah berada di tingkat yang kurang memadai untuk menghadapi negara dengan kekuatan setara.
Kondisi tersebut kini dinilai semakin memburuk, sehingga membutuhkan waktu tambahan untuk membangun kembali kapasitas yang cukup guna menghadapi kemungkinan konflik di masa depan.
Penyusutan stok ini juga diperkirakan berdampak pada pasokan sistem pertahanan seperti Patriot, THAAD, hingga Precision Strike Missile (PrSM) kepada Ukraina serta sekutu lainnya.
Amerika Serikat juga diprediksi akan menghadapi persaingan ketat dengan negara lain yang berupaya meningkatkan dan memperluas persediaan rudal mereka.