Beritagosip.com Iran kembali mengajukan proposal negosiasi baru dalam upaya melanjutkan perundingan damai dengan Amerika Serikat. Langkah ini muncul setelah Pakistan berperan sebagai mediator guna membuka jalan bagi kelanjutan dialog yang sebelumnya menemui kebuntuan.
Proposal Iran terbaru ini memicu reaksi negatif dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ketidakpuasan tersebut muncul karena dokumen tersebut tidak mencantumkan pembahasan mengenai program nuklir Iran, yang menjadi tuntutan utama Washington.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dilaporkan mengusung pendekatan bertahap dalam proposal tersebut. Fokus awal diarahkan pada pembukaan kembali Selat Hormuz serta penguatan jaminan keamanan kawasan. Sementara itu, isu nuklir direncanakan untuk dibahas dalam tahap lanjutan.
Upaya diplomatik ini dilakukan melalui rangkaian kunjungan intensif ke beberapa negara, termasuk Pakistan, Oman, dan Rusia dalam waktu singkat. Pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di St Petersburg menjadi bagian dari strategi untuk memperoleh dukungan internasional.
Selain itu, pembahasan di Muscat melibatkan sejumlah pihak penting, termasuk pejabat intelijen dari berbagai negara. Diskusi tersebut menitikberatkan pada stabilitas kawasan dan kemungkinan kerangka penyelesaian konflik, tanpa menyentuh isu nuklir secara langsung.
Proposal tersebut telah diserahkan kepada Pakistan, yang kini memegang peran sebagai perantara antara Teheran dan Washington. Sebelumnya, perundingan awal yang digelar pada 11 April di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan konkret.
Langkah Iran ini dinilai sebagai upaya belajar dari pengalaman masa lalu, khususnya kegagalan kesepakatan nuklir 2015 atau JCPOA. Dalam perjanjian tersebut, Iran sempat membatasi pengayaan uranium dengan imbalan pencabutan sanksi internasional.
Namun, keputusan Amerika Serikat untuk keluar dari perjanjian pada 2018 membuat Iran kehilangan jaminan politik dan dukungan internasional. Kondisi itu mendorong Teheran untuk merancang strategi baru yang lebih tahan terhadap dinamika politik global.
Sejumlah analis menilai pendekatan ini bertujuan membangun dukungan regional sekaligus meredam eskalasi konflik. Iran juga disebut berupaya menciptakan fondasi negosiasi yang lebih kuat dan tidak mudah terpengaruh perubahan kebijakan di Amerika Serikat.
Di sisi lain, Gedung Putih belum memberikan konfirmasi resmi terkait isi proposal tersebut. Juru bicara menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan melakukan negosiasi melalui media dan hanya akan menerima kesepakatan yang menjamin kepentingan nasionalnya.
Meski demikian, laporan dari internal pemerintahan menyebutkan bahwa Donald Trump tidak puas dengan isi proposal Iran. Ketiadaan pembahasan program nuklir menjadi alasan utama ketegangan tersebut.
Hingga saat ini, belum ada kepastian apakah Amerika Serikat akan menerima pendekatan bertahap yang diusulkan Iran. Trump menegaskan bahwa syarat utama tetap tidak berubah, yaitu Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir sebagai dasar dimulainya negosiasi lebih lanjut.