Beritagosip.com – Uranium Iran kembali menjadi sorotan setelah Teheran disebut sepakat mengurangi dan memindahkan uranium yang sudah diperkaya ke negara ketiga sebagai respons atas proposal Amerika Serikat untuk mengakhiri perang.
Sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan Iran memang menyetujui langkah itu, tetapi mengajukan sejumlah syarat ketat. Teheran meminta jaminan bahwa uranium yang dipindahkan akan dikembalikan jika negosiasi gagal. Iran juga menolak pembongkaran fasilitas nuklirnya.
Sumber dari Iran hanya menyampaikan bahwa pemerintah sudah memberikan tanggapan terhadap proposal Amerika Serikat. Namun, mereka tidak menjelaskan rincian lebih lanjut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan pemerintah fokus mengakhiri perang dan menyelesaikan kekhawatiran negara-negara di kawasan.
Persoalan program nuklir Iran menjadi isu serius bagi Amerika Serikat bahkan sebelum perang 28 Februari dimulai. Pemerintahan Donald Trump ingin menghentikan program nuklir Iran, sementara Teheran meminta Washington menghormati hak mereka untuk memperkaya uranium.
Terlepas dari negosiasi tersebut, jumlah uranium Iran yang sudah diperkaya terus menjadi perhatian dunia internasional.
Menurut International Atomic Energy Agency atau Badan Energi Atom Internasional, Iran menjadi satu-satunya negara tanpa senjata nuklir yang mampu memperkaya uranium hingga 60 persen.
Amerika Serikat dan Israel selama ini menganggap tingkat pengayaan uranium Iran sangat mengkhawatirkan. Uranium dengan kadar 60 persen dinilai hanya selangkah menuju tingkat 90 persen yang dapat digunakan untuk senjata nuklir.
Secara teori, uranium Iran yang diperkaya hingga 60 persen juga disebut cukup untuk menghasilkan bahan bakar bagi belasan hulu ledak nuklir, seperti dikutip dari Arms Control Association.
Kepala Badan Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, sebelumnya pernah menyatakan Iran bersedia menurunkan tingkat pengayaan uranium jika Amerika Serikat mencabut seluruh sanksi ekonomi.
“Peluang untuk mengurangi pengayaan uranium bergantung pada pencabutan seluruh sanksi,” ujar Eslami pada Senin (9/2), seperti dikutip Al Jazeera.
Sebelum serangan Amerika Serikat dan Israel pada Juni lalu yang dikenal sebagai Perang 12 Hari, Iran sudah memperkaya uranium hingga 60 persen. Angka tersebut jauh melampaui batas 3,67 persen dalam perjanjian nuklir tahun 2015.
Berbagai laporan media internasional selama beberapa tahun terakhir juga terus menyebut pengayaan uranium Iran bertahan di level 60 persen dan tidak pernah meningkat hingga 70 atau 80 persen.
Saat ini belum ada informasi rinci mengenai total uranium Iran yang sudah diperkaya maupun perkembangan terbaru dari program nuklir Teheran.