beritagosip.com — Iran menilai Amerika Serikat kembali mengajukan tuntutan berlebihan dalam pembahasan terkait program nuklir Iran dan konflik kawasan Timur Tengah yang masih berlangsung.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan pernyataan tersebut saat berbicara dengan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres.
Dalam percakapan itu, Araghchi menegaskan Iran tetap menjalankan jalur diplomasi meski berkali-kali menghadapi pengkhianatan diplomatik dan tekanan militer terhadap negaranya.
Menurut Araghchi, tuntutan AS soal nuklir menunjukkan sikap yang kontradiktif dan terus diulang dalam setiap proses negosiasi.
Situasi hubungan Iran dan Amerika Serikat kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah media Amerika melaporkan Gedung Putih sedang mempertimbangkan opsi serangan baru terhadap Iran, walau belum ada keputusan resmi.
Di sisi lain, para pemimpin Iran masih mempelajari proposal terbaru dari Washington untuk mencari solusi atas konflik yang berlangsung.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya juga membatalkan agenda menghadiri pernikahan putranya demi tetap berada di Washington untuk urusan pemerintahan.
Keputusan tersebut memicu spekulasi bahwa negosiasi Iran AS memasuki fase yang sangat sensitif.
Trump menggambarkan proses negosiasi saat ini berada di titik penentuan antara tercapainya kesepakatan baru atau kembali pecahnya konflik bersenjata.
Konflik antara AS-Israel dan Iran mulai meningkat sejak 28 Februari lalu. Ketegangan tersebut memicu aksi blokade balasan di sekitar Selat Hormuz, jalur utama perdagangan minyak dunia.
Gangguan di kawasan itu turut memengaruhi stabilitas ekonomi global karena Selat Hormuz menjadi salah satu jalur energi paling strategis di dunia.
Sejak gencatan senjata berlaku pada 8 April, kedua pihak telah menjalani beberapa putaran pembicaraan. Salah satu negosiasi berlangsung secara langsung dengan mediasi dari Pakistan.
Meski proses diplomasi terus berjalan, hingga kini belum ada kesepakatan permanen maupun pemulihan penuh akses perdagangan di Selat Hormuz.
Di tengah upaya mediasi tersebut, Panglima Angkatan Darat Pakistan juga tiba di Teheran untuk membantu memperkuat proses diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat.