Beritagosip.com Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memperkuat layanan pelindungan bagi jemaah haji Indonesia selama fase Mina dengan menyiagakan Tim MCR di kawasan Jamarat.
Tim tersebut disiapkan untuk memberikan pertolongan pertama, melakukan evakuasi darurat, serta membantu mengurai kepadatan jemaah selama proses lontar jumrah pada hari Tasyrik.
Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaff mengatakan Tim MCR di kawasan Jamarat menjadi bagian penting dalam penguatan layanan pada titik pergerakan jemaah.
“MCR atau Mobile Crisis Rescue adalah tim khusus dan posko dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji yang disiagakan di kawasan Jamarat, Mina. Tim ini bertugas memberikan pertolongan pertama, melakukan evakuasi darurat, dan membantu mengurai kepadatan jemaah selama puncak ibadah haji,” ujar Maria dalam keterangan tertulis pada Kamis (28/5).
Maria menjelaskan posko MCR ditempatkan di sejumlah titik strategis di area Jamarat dan jalur perlintasan jemaah.
Penempatan tersebut dilakukan agar petugas dapat memantau situasi secara langsung, merespons kondisi darurat dengan cepat, serta memberikan bantuan kepada jemaah yang membutuhkan penanganan segera.
“MCR dibentuk khusus untuk merespons kondisi darurat, termasuk memberikan penanganan bagi jemaah yang pingsan, tersesat, mengalami kelelahan ekstrem, hingga melakukan evakuasi bagi jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas,” katanya.
Ia menegaskan keberadaan Tim MCR di kawasan Jamarat menjadi bagian dari upaya Kemenhaj untuk memastikan seluruh kondisi di lapangan dapat ditangani secara cepat dan terkoordinasi.
“Pelindungan jemaah adalah prioritas. Karena itu, petugas tidak hanya berada di tenda-tenda jemaah, tetapi juga disiagakan di jalur pergerakan, pos pantau, dan titik-titik yang berpotensi terjadi kepadatan. Setiap jemaah yang membutuhkan bantuan harus bisa segera ditangani,” ujar Maria.
Pada 11 Dzulhijjah 1447 H, jemaah haji Indonesia mulai melaksanakan lontar tiga jamarah, yaitu Ula, Wustha, dan Aqabah.
Kemenhaj mengimbau seluruh jemaah agar mengikuti jadwal lontar yang telah ditetapkan sesuai kloter masing-masing dan tidak melaksanakan lontar di luar jadwal resmi.
Pada 11 Dzulhijjah, pelaksanaan lontar jumrah terbagi dalam dua sesi. Sesi pertama berlangsung pukul 17.00 hingga 24.00 waktu Arab Saudi. Sesi kedua berlangsung pada 12 Dzulhijjah pukul 00.00 hingga 04.00 waktu Arab Saudi.
Waktu larangan melontar pada 11 Dzulhijjah berlaku mulai pukul 11.00 hingga 18.00 waktu Arab Saudi.
Pada 12 Dzulhijjah, jadwal lontar jumrah berlangsung pukul 05.00 sampai 10.30 waktu Arab Saudi dan dilanjutkan pukul 18.00 sampai 24.00 waktu Arab Saudi.
Waktu larangan melontar pada 12 Dzulhijjah berlaku pukul 11.00 hingga 14.00 waktu Arab Saudi.
Sementara pada 13 Dzulhijjah, pelaksanaan lontar jumrah dijadwalkan pukul 05.00 hingga 12.00 waktu Arab Saudi tanpa waktu larangan khusus sebagaimana tercantum dalam jadwal resmi.
Maria kembali mengingatkan jemaah agar tidak memaksakan diri dan tidak berangkat sendiri menuju kawasan Jamarat.
Seluruh pergerakan jemaah harus dilakukan secara berkelompok, didampingi petugas, serta mengikuti arahan ketua kloter, ketua rombongan, ketua regu, sektor, dan pembimbing ibadah.
“Kami mengimbau jemaah untuk tidak terburu-buru dan tidak memaksakan diri. Ikuti jadwal, gunakan jalur resmi, dan jangan memisahkan diri dari rombongan. Keselamatan jemaah harus menjadi perhatian bersama,” kata Maria.