Beritagosip.com – Korea Utara mengungkapkan kemarahan yang sangat kuat setelah Jepang dan Korea Selatan memperluas dan memperkuat kerja sama militer di tengah ketegangan yang terus meningkat di Semenanjung Korea. Reaksi keras dari Pyongyang menunjukkan bahwa perkembangan aliansi regional tersebut dipandang sebagai ancaman serius bagi kepentingan keamanan nasional Korea Utara.
Kang Chol Su, kepala bagian di Institut Studi Negara Musuh Korea Utara, menyatakan pandangan pemerintahnya dengan bahasa yang sangat kuat dan provokatif. Dalam pernyataan yang dilaporkan melalui Korean Central News Agency (KCNA) dan dikutip oleh Yonhap pada Kamis (9/7), Kang secara eksplisit menyebut kerja sama Seoul-Tokyo sebagai “tindakan yang sama dengan mencari mati” atau upaya untuk mencari kehancuran diri sendiri.
Kang menekankan bahwa menurut penilaian Korea Utara, kerja sama keamanan yang dibangun antara Jepang dan Korea Selatan tidak akan pernah berhasil melemahkan posisi strategis Korea Utara. Dengan nada yang sangat percaya diri, pejabat Korut itu menyatakan bahwa tidak akan terjadi perubahan apapun dalam struktur mekanis absolut dari sikap yang tidak menunjukkan ketakutan yang telah dibangun Korea Utara di Semenanjung Korea sebagai negara pemilik senjata nuklir terkuat dalam regional.
Dalam analisisnya, Kang menyoroti berbagai perkembangan konkret yang menunjukkan intensifikasi kerja sama Jepang-Korsel. Dia mengungkapkan kekhawatiran terhadap pembicaraan tingkat menteri pertahanan yang dilakukan oleh kedua negara baru-baru ini. Selain itu, Kang juga menunjuk pada insiden pengisian bahan bakar jet Korea Selatan di Jepang yang terjadi di awal tahun ini sebagai bukti nyata dari pendekatannya yang semakin erat.
Pejabat Korea Utara itu memperingatkan dengan nada yang mengancam bahwa perkembangan-perkembangan semacam itu tidak bisa dibiarkan begitu saja dan harus menjadi perhatian serius bagi komunitas internasional. Kang menjabarkan penguatan hubungan keamanan kedua negara Asia Timur itu telah berkembang menjadi apa yang disebut sebagai “perjanjian dukungan logistik” yang sangat signifikan.
Perjanjian dukungan logistik ini memungkinkan Korea Selatan dan Jepang untuk saling memasok amunisi dan persediaan militer lainnya, termasuk bahan bakar, dalam situasi keadaan darurat atau kondisi perang. Mekanisme ini mencerminkan tingkat integrasi keamanan yang sangat dalam antara dua negara tersebut, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah bilateral hubungan mereka yang kompleks.
Kang menegaskan bahwa apa yang disebut sebagai kerja sama keamanan Jepang pada hakikatnya merupakan kerja sama konfrontasi yang secara jelas menargetkan Korea Utara atau DPRK (Democratic People’s Republic of Korea). Pernyataan ini menunjukkan bagaimana Korea Utara menginterpretasikan kerja sama bilateral tersebut bukan sebagai upaya pertahanan defensif, melainkan sebagai aliansi ofensif yang dirancang untuk mengepung dan melemahkan posisi strategisnya.
Upaya penguatan hubungan keamanan ini juga diindikasikan dapat berkembang menjadi sistem kerja sama segitiga yang melibatkan Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan. Kondisi ini menjadi semakin jelas dan nyata setelah ketiga negara membicarakan pengembangan sistem rudal jarak jauh dan berusaha untuk memiliki kapal selam bertenaga nuklir yang canggih. Pembentukan aliansi triangular yang kuat ini dipandang Korea Utara sebagai pengepungan strategis terhadap regionalnya.
Menurut Kang, pembentukan kerja sama keamanan dengan pola semacam ini hanya akan membenarkan dan memperkuat ambisi nuklir Korea Utara. Dia berpendapat bahwa Korea Utara mempertahankan program nuklirnya dengan tujuan untuk mempertahankan perdamaian dan keamanan di wilayahnya sendiri dalam menghadapi ancaman yang dipersepsikan dari aliansi regional yang terus menguat di sekitarnya.
Pernyataan Korea Utara ini mencerminkan dinamika keamanan regional yang semakin kompleks dan tegang di Semenanjung Korea. Perkembangan ini menunjukkan bahwa setiap gerakan untuk memperkuat hubungan keamanan diinterpretasikan sebagai ancaman langsung oleh salah satu pihak, menciptakan siklus aksi-reaksi yang berpotensi meningkatkan ketegangan dan risiko konflik di masa depan.