Beritagosip.com – Proses perkembangan kemampuan berbicara merupakan tahapan krusial dalam perjalanan tumbuh kembang si kecil. Antusiasme para orangtua dalam mendengarkan ucapan pertama buah hati mereka menciptakan beragam keyakinan tradisional yang tersebar di penjuru dunia. Mulai dari penggesekan cincin mulia ke lidah bayi, polesan madu manis, hingga ritual mandi dengan air hujan pertama—beragam metode dipercaya mampu mempercepat kemampuan berbicara si kecil.
Meskipun tradisi-tradisi ini terasa menarik dan telah diwariskan turun-temurun dalam berbagai komunitas, mayoritas praktik tersebut justulah sekadar kepercayaan tanpa dukungan riset akademik yang kuat. Apa saja mitos-mitos unik mengenai percepatan kemampuan berbicara anak yang tersebar di berbagai penjuru? Berikut penjelasannya.
Kepercayaan di Nusantara dan Sekitarnya
Komunitas di sejumlah pelosok Nusantara memegang keyakinan bahwa menggosokkan perhiasan emas asli ke permukaan lidah bayi dapat membuat buah hati mereka lancar mengucapkan kata-kata lebih cepat. Selain itu, tradisi lain yang masih dipercaya adalah menyentuhkan paruh unggas seperti gereja langsung ke lidah anak, dengan harapan anak akan menjadi lebih banyak berbicara mengikuti sifat burung yang sering berkicau.
Kepercayaan tambahan yang masih bertahan adalah memberikan jeroan atau rempela unggas kepada anak karena diyakini dapat menguat organ produksi suara sehingga memudahkan anak mengutarakan kalimat.
Di negeri jiran Malaysia, tradisi menyapu permukaan lidah buah hati memakai daun yang sudah diberi kapur sirih masih dipraktikkan. Kepercayaan lokal ini beranggapan bahwa prosedur tersebut dapat membuat lidah anak lebih luwes dan lentur sehingga lebih mudah dalam mengucapkan berbagai kata. Ritual serupa juga masih dijumpai di beberapa wilayah Nusantara.
Tradisi dari Benua Asia Lainnya
Masyarakat di kawasan anak benua India menganut kepercayaan bahwa kemampuan berbicara si kecil akan meningkat pesat bilamana lidah dibalur campuran madu alami dan tumbuhan vacha atau sweet flag. Kombinasi ini diyakini dapat merangsang serabut saraf yang berkaitan dengan kemampuan berbicara sekaligus meningkatkan potensi verbal.
Keyakinan lain yang masih berkembang di India ialah membiarkan anak meminum air yang dituangkan dari dalam alat musik tembaga berbentuk lonceng di tempat ibadah. Dipercaya air tersebut membawa energi khusus yang dapat membuka kemampuan berbicara anak.
Di Tiongkok kuno, teori menyebutkan bahwa jaringan pengikat lidah yang pendek menjadi faktor utama keterlambatan berbicara. Oleh sebab itu, praktisi tradisional dahulu melakukan penyayatan kecil di bawah lidah bayi agar struktur lidah dianggap lebih fleksibel. Saat ini, teknik tersebut hanya dilakukan dengan indikasi medis pada anak yang benar-benar memiliki kondisi tongue-tie atau ankiloglosia, bukan sebagai metode percepatan kemampuan berbicara.
Ritual dari Afrika dan Eropa
Penduduk beberapa wilayah benua Afrika, terutama di Nigeria, percaya bahwa anak yang berdiri atau memandikan diri di bawah cipratan air hujan pertama pada pergantian musim akan memiliki suara yang jernih dan fasih berbicara. Air hujan dipandang membawa tenaga alam yang mampu ‘membuka’ potensi berbicara sang anak.
Sementara itu, di komunitas Eropa masa lampau berkembang larangan pemberian telur kepada anak yang belum mampu berbicara. Kepercayaan pada era itu mengatakan telur dapat membuat lidah menjadi ‘berat’ sehingga menghambat anak dalam mengucapkan kalimat pertamanya.
Fakta Ilmiah Sesungguhnya
Hingga hari ini, riset ilmiah belum menemukan bukti nyata bahwa berbagai ritual tersebut mampu mempercepat kemampuan berbicara anak. Kemampuan berbahasa anak dipengaruhi oleh banyak unsur kompleks, mencakup kematangan fungsi otak, fungsi pendengaran yang baik, status kesehatan keseluruhan, dan intensitas interaksi bermakna dengan orangtua serta lingkungan sekitar.
Para ahli merekomendasikan orangtua untuk memberikan stimulasi tepat sejak dini demi mengoptimalkan perkembangan kemampuan bahasa, meliputi:
- Mengajak si kecil berbicara secara konsisten, sejak periode bayi.
- Membacakan cerita dari buku secara teratur dan konsisten.
- Merespons setiap suara, celotehan, dan percobaan komunikasi anak.
- Melakukan aktivitas bernyanyi dan bermain interaktif bersama.
- Membatasi waktu layar sesuai pedoman usia anak.
Apabila ada kekhawatiran bahwa anak menunjukkan tanda-tanda keterlambatan berbicara dibandingkan rentang usia normalnya, sebaiknya orangtua melakukan konsultasi dengan spesialis anak atau ahli terapi wicara. Penanganan lebih awal dapat membantu mengidentifikasi akar masalah dan memberikan intervensi yang sesuai.