Beritagosip.com – Kepemilikan kendaraan pribadi di negara Singapura terus menemui hambatan finansial yang spektakuler. Besaran biaya yang dibutuhkan untuk memperoleh hak berkendara mencapai angka yang sungguh menggemparkan para calon pembeli otomotif.
Sertifikat wajib yang dikenal dengan sebutan Certificate of Entitlement (COE) kini dipatok dengan harga S$123.890, nilainya setara dengan 1,72 miliar rupiah dalam perhitungan tukar pasar saat ini. Jumlah tersebut belum mencakup harga mobil itu sendiri. Kuota premium kategori A telah mencapai level tertinggi dalam lelang paling terkini bulan Agustus 2026.
Sistem lelang yang diterapkan oleh Land Transport Authority (LTA) Singapura telah menjadi salah satu mekanisme pembatasan populasi kendaraan paling ketat. Pemerintah membatasi jumlah mobil di negaranya dengan tetap mempertahankan kuota terbatas, dilelang sebanyak dua kali dalam sebulan dengan penawaran yang terbuka.
Setiap sertifikat yang dimenangkan dalam lelang hanya berlaku selama sepuluh tahun masa penggunaan. Strategi ini dirancang untuk menjaga populasi kendaraan tetap di angka sekitar satu juta unit bagi enam koma satu juta penduduk Singapura. Teknik pembatasan ini telah membuktikan keefektifannya dalam menekan kemacetan lalu lintas.
Lonjakan harga yang terjadi sangat dramatis jika ditinjau dari perspektif historis. Perusahaan berita internasional Reuters melaporkan bahwa harga sertifikat untuk kendaraan berskala kecil telah meningkat empat kali lipat dibanding periode sebelum terjadi pandemi global. Tren peningkatan ini menunjukkan momentum yang terus berlanjut tanpa ada indikasi akan melambat.
Data historis memperlihatkan perkembangan yang mengkhawatirkan. Pada Oktober 2023, sertifikat mobil berukuran besar sudah mencapai nilai 77.500 dollar Amerika atau setara 1,38 miliar rupiah. Selanjutnya, lelang perdana tahun 2026 menghadirkan lompatan harga menjadi S$102.009 atau sekitar 1,42 miliar rupiah. Pada bulan Juli, rekor baru tercipta dengan nilai mencapai S$129.000 atau kira-kira 1,80 miliar rupiah.
Menteri Transportasi Jeffrey Siow telah memberikan penjelasan mengenai fenomena lonjakan ini. Ia menyebutkan bahwa permintaan kendaraan tetap tinggi karena ketersediaan mobil listrik yang harganya kompetitif. Di sisi lain, pasokan sertifikat untuk kendaraan kecil justru mengalami penurunan dalam setiap lelang.
Land Transport Authority membagi penawaran kendaraan ke dalam lima kategori berbeda sesuai spesifikasi mesin dan daya. Kategori A mencakup mobil tanpa listrik dengan kapasitas mesin hingga seribu enam ratus cc dan daya maksimal 97 kilowatt. Kategori B merupakan kendaraan bermesin lebih besar dengan daya melebihi 97 kilowatt, dipatok pada S$129.910 atau sekitar 1,81 miliar rupiah. Kategori C dikhususkan untuk kendaraan pengguna barang seperti bus dengan harga S$91.545 atau 1,27 miliar rupiah. Kategori D berlaku untuk pengguna sepeda motor dengan tarif S$10.503 atau sekitar 146,2 juta rupiah. Kategori E mencakup semua jenis kendaraan lain dengan harga S$131.000 atau sekira 1,82 miliar rupiah.
Batasan spesifikasi mesin telah mengubah strategi industri otomotif secara fundamental. Para pabrikan secara sengaja mengurangi performa mesin pada model-model populer yang dipasarkan khusus di Singapura agar bisa masuk kategori sertifikat lebih murah. Teknik ini dikenal dengan istilah detune.
Mahalnya biaya sertifikat secara otomatis menaikkan nilai akhir jual kendaraan. Sebagai ilustrasi, Toyota Corolla yang sudah menggabungkan biaya sertifikat, daftar ulang, dan pajak dibanderol S$179.888 atau sekitar 2,50 miliar rupiah. Harga jauh lebih mencengangkan terlihat pada Honda Civic non-hibrid dengan pita S$211.899 atau kira-kira 2,95 miliar rupiah. Sedangkan Mercedes-Benz GLE mencapai angka fantastis S$572.888 atau sekira 7,97 miliar rupiah.
Perbandingan dengan kondisi ekonomi rumah tangga membuat situasi semakin menyedihkan. Penghasilan tahunan rata-rata keluarga Singapura hanya mencapai S$149.352 atau setara 2,08 miliar rupiah, bahkan beberapa wilayah lebih rendah di S$139.000 atau kira-kira 1,93 miliar rupiah. Dengan demikian, mobil bukan lagi kebutuhan transportasi sederhana melainkan aset bernilai milyaran dengan durasi terbatas.
Permintaan tetap tinggi meskipun harga terus melambung tanpa kendali. Dalam lelang terbaru, pencatatan menunjukkan terdapat 1522 pengajuan untuk kategori A sementara kuota hanya tersedia 1.226 unit. Hal ini menyisakan 302 peminat yang harus mundur dari lelang.
Selama pemerintah terus mengendalkan kuota ketat dan permintaan terus mengalir deras, harga sertifikat di Singapura diprediksi akan terus melejit jauh di atas angka masa-masa pandemi. Akhirnya, kepemilikan kendaraan di negara Merlion menjadi simbol status finansial daripada sarana mobilitas biasa.