Beritagosip.com – Kualitas udara yang terus menurun di wilayah metropolitan Jakarta membawa konsekuensi serius bagi kesejahteraan penduduk. Berbagai penyakit, mulai dari infeksi paru-paru hingga gangguan fungsi jantung, mengalami peningkatan prevalensi yang berkaitan langsung dengan kondisi udara yang tercemar.
Akademisi terkemuka dari institusi pendidikan tinggi terkemuka di Jakarta mengungkapkan temuan penelitiannya dalam acara sosialisasi hasil studi kualitas udara. Acara tersebut diselenggarakan oleh organisasi nirlaba yang fokus pada upaya pencapaian emisi nol di wilayah metropolitan, yang diadakan di bagian selatan Jakarta pada hari Kamis (20/8).
Dengan merujuk pada data dari badan jaminan kesehatan sosial, sejumlah kondisi medis yang berkorelasi dengan polusi udara di Jakarta menunjukkan tren peningkatan konsisten selama periode tiga tahun dari 2021 hingga 2023. Penyakit-penyakit tersebut mencakup infeksi paru-paru, gangguan aliran darah ke jantung, infeksi saluran pernapasan akut, serta penyakit paru obstruktif menahun.
Pada tahun 2021, pencatatan menunjukkan 16.209 kasus infeksi paru-paru, 29.225 kasus gangguan aliran darah jantung, 14.954 kasus infeksi saluran pernapasan, dan 13.229 kasus penyakit paru obstruktif. Jumlah-jumlah ini kemudian mengalami pertumbuhan signifikan pada tahun 2022.
Kasus infeksi paru-paru meningkat menjadi 33.038, gangguan aliran darah jantung naik menjadi 35.910 kasus, infeksi saluran pernapasan mencapai 36.669 kasus, dan penyakit paru obstruktif menahun tercatat 24.308 kasus.
Peningkatan yang sama terus berlanjut memasuki tahun 2023. Pencatatan dari badan jaminan kesehatan sosial menunjukkan infeksi paru-paru mencapai 48.084 kasus, gangguan aliran darah jantung mencatat 40.068 kasus, infeksi saluran pernapasan 56.571 kasus, dan penyakit paru obstruktif menahun 32.474 kasus.
Akademisi tersebut menekankan bahwa kondisi gangguan aliran darah jantung telah menjadi fenomena yang semakin umum dalam praktik medis modern, dengan jumlah kasus yang terus bertambah.
Dampak Polutan PM2,5
Peneliti menjelaskan mekanisme patologis dari polutan partikel kecil. Setiap kenaikan konsentrasi partikel kecil (PM2,5) sebesar 15 mikrogram per meter kubik udara dapat meningkatkan probabilitas terjadinya berbagai penyakit. Peningkatan pada level tersebut diproyeksikan dapat memicu kenaikan kasus infeksi paru-paru sebesar 20 persen, gangguan aliran darah jantung sebesar 37 persen, penyakit paru obstruktif menahun sebesar 27 persen, dan infeksi saluran pernapasan sebesar 18 persen.
Meningkatnya prevalensi penyakit yang berkaitan dengan polusi udara juga menghasilkan dampak signifikan pada beban pembiayaan sektor kesehatan. Total nilai klaim untuk 12 kelompok penyakit yang terkait dengan polusi udara di Jakarta mengalami pertumbuhan konsisten dari tahun ke tahun.
Beban klaim tercatat sebesar Rp588 miliar pada 2021. Nilai ini kemudian meningkat menjadi Rp867 miliar pada tahun 2022 dan terus bertambah mencapai Rp1,19 triliun pada tahun 2023.
Upaya Mitigasi Pemerintah Daerah
Administrasi regional DKI Jakarta terus mencari berbagai strategi untuk memperbaiki kondisi kualitas udara di wilayah administratif pusat negara.
Salah satu intervensi yang dilakukan adalah melibatkan petugas pemadam kebakaran untuk menyemprotkan air ke udara guna mengurangi konsentrasi partikel pencemar.
Pemimpin eksekutif DKI Jakarta melaporkan bahwa telah berkali-kali mengarahkan badan manajemen bencana daerah untuk melakukan modifikasi cuaca dengan tujuan membantu mengatasi kondisi polusi udara. Namun, keberhasilan intervensi ini bergantung pada faktor alam, terutama ketersediaan formasi awan yang memungkinkan terjadinya presipitasi.
Pemimpin regional menegaskan bahwa administrasinya tetap berkomitmen untuk melakukan berbagai macam intervensi guna memperbaiki kondisi atmosfer di Jakarta.