Beritagosip.com – BNPB buka suara soal laporan CREA yang memperkirakan 3.560 orang meninggal akibat pencemaran udara di Indonesia, termasuk dampak asap karhutla.
Kapusdatin BNPB Berton SP Panjaitan menyebut angka itu perlu diklarifikasi metodologinya.
“Terkait angka estimasi 3.560 kematian yang disebutkan dalam laporan tersebut, perlu dipahami terlebih dahulu metodologi yang digunakan, sumber data, periode penghitungan, serta berapa bagian yang diperkirakan berkaitan dengan asap karhutla dan berapa bagian yang berasal dari sumber pencemaran udara lainnya,” kata Berton, Jumat (30/10).
Ia menekankan estimasi pemodelan berbeda dengan kematian terverifikasi individual, dan BNPB tak bisa menetapkan angka sendiri tanpa analisis instansi berwenang.
“BNPB perlu mengintegrasikan informasi tersebut dalam penilaian dampak bencana dan koordinasi penanganan bersama kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah terkait,” ujarnya.
Yang Penting: Lindungi Masyarakat
Berton menegaskan perbedaan metode hitung tak boleh mengurangi keseriusan perlindungan.
“Upaya pencegahan dan pemadaman karhutla harus berjalan seiring dengan pemantauan kualitas udara, penyampaian informasi risiko secara tepat waktu, serta perlindungan kelompok rentan, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, dan masyarakat dengan penyakit pernapasan,” ujarnya.
Laporan CREA sendiri menyebut 57,8 juta penduduk Indonesia menghirup udara tak sehat hingga berbahaya. Kematian akibat polusi karhutla terkonsentrasi di Kalimantan, Jawa, Sumatra, dan timur Indonesia.
Polusi non-karhutla dari pembangkit, industri, dan transportasi menambah 1.750 kematian, membuat total September mencapai 5.310 jiwa. Paparan PM2.5 nasional melonjak tujuh kali ambang tahunan WHO, 10 kali di Sumatra, dan 24 kali di Kalimantan, dengan lebih dari 330 ribu kasus ISPA tercatat.