Beritagosip.com – Ungkapan “laki-laki tidak bercerita” mungkin terdengar seperti lelucon, tapi nyatanya menjadi potret nyata dari kondisi mental sebagian besar pria Indonesia. Hasil investigasi terbaru mengungkap lebih dari 1,4 juta laki-laki di Indonesia mengalami gangguan mental, namun mayoritas memilih menyimpannya sendiri.
Fenomena ini sempat viral di akhir 2024, dengan berbagai meme menyindir bagaimana pria memproses emosinya diam-diam—mulai dari keliling kota naik motor tanpa tujuan hingga rambut yang tiba-tiba memutih. Namun di balik humor itu tersembunyi tekanan sosial besar yang memaksa pria untuk diam dan tampak kuat.
Data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2022 menunjukkan bahwa meski jumlah perempuan dengan gangguan mental sedikit lebih tinggi (1,48 juta), pria lebih dominan mengalami tekanan saat bekerja, menganggur, atau bersekolah.
- 417.681 laki-laki dengan gangguan mental tidak bekerja
- 511.073 mengalami tekanan saat bekerja
- 59.537 mengalaminya saat bersekolah
Bandingkan dengan jumlah perempuan dalam kategori sama, dan terlihat jelas bahwa beban sosial pria lebih tersembunyi, namun tidak kalah berat.
Menurut psikolog Danti Wulan Manunggal dari Ibunda.id, laki-laki didorong sejak kecil untuk menyembunyikan emosi. “Ada harapan yang dibentuk norma maskulinitas: pria harus kuat, tidak boleh menangis, dan selalu mengendalikan situasi,” ujarnya.
Fenomena ini dikenal dengan istilah toxic masculinity—nilai-nilai keliru yang menempatkan pria sebagai sosok dominan dan tahan banting, tanpa ruang untuk rapuh.
Akibatnya? Gangguan mental pada laki-laki justru sulit dikenali. Tak sedikit yang melampiaskan tekanan lewat alkohol, narkoba, atau agresivitas—sebuah bentuk coping mechanism yang merusak diri sendiri.
Sayangnya, budaya diam ini justru memperburuk kondisi mereka. Alih-alih mencari pertolongan profesional, banyak pria lebih memilih menderita dalam diam, karena takut dianggap lemah atau tidak maskulin.
Psikolog Danti menegaskan pentingnya membangun ruang aman bagi pria untuk mengekspresikan emosi tanpa stigma. Jika tidak, masalah ini akan terus tumbuh di bawah permukaan.
Dalam era yang semakin terbuka soal kesehatan mental, pertanyaan besarnya kini: berapa lama lagi laki-laki harus bertahan tanpa bercerita?