Beritagosip.com – Presiden ke-45 Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan kemarahannya setelah namanya dikaitkan dengan dokumen dalam kasus predator seksual Jeffrey Epstein. Yang ironis, dokumen yang menyebut nama Trump itu dirilis oleh pemerintahan Trump sendiri, dan kemudian memicu kegemparan publik karena mencantumkan daftar nama klien Epstein, termasuk pejabat tinggi dan tokoh publik.
Dalam unggahan resmi di platform miliknya, Truth Social, Trump menyebut bahwa kabar tersebut adalah rekayasa yang sengaja dibuat oleh Partai Demokrat. Menurutnya, hal ini adalah taktik untuk mendiskreditkan capaian pemerintahannya dalam enam bulan terakhir.
“Para Demokrat radikal sayap kiri melakukan berbagai cara yang mereka bisa untuk merusak dan mengalihkan dari enam bulan pemerintahan kita yang HEBAT untuk Amerika, yang banyak orang bilang ini enam bulan TERBAIK dalam sejarah kepresidenan,” tulis Trump pada Kamis malam, waktu setempat.
Trump juga menegaskan bahwa tuduhan tersebut adalah bagian dari pola lama, yakni memainkan isu-isu palsu seperti “hoaks Rusia” yang sebelumnya sudah digunakan untuk menjatuhkannya. Kini, ia menilai skandal Epstein dijadikan kedok baru untuk skema politik yang disebutnya sebagai “Jeffrey Epstein SCAM”.
Jaksa Agung AS, Pam Bondi, disebut menjadi orang yang pertama kali memberi tahu Trump bahwa namanya tercantum dalam dokumen Epstein. Informasi ini disampaikan pada Mei lalu, ketika Departemen Kehakiman tengah meninjau berkas-berkas milik Epstein. Dua pejabat Gedung Putih mengonfirmasi bahwa informasi itu disampaikan dalam sesi pengarahan rutin.
Jeffrey Epstein sendiri adalah terpidana kasus kejahatan seksual anak yang sempat dipenjara pada 2008. Ia kembali ditangkap pada 2019 dan akhirnya meninggal karena bunuh diri di dalam sel tahanan. Meski begitu, masih ada pihak yang meragukan kematian Epstein sebagai murni bunuh diri.
Trump memang dikenal pernah memiliki hubungan dengan Epstein. Hal ini terjadi jauh sebelum Trump masuk ke dunia politik, saat ia masih aktif sebagai pebisnis dan tokoh hiburan di Amerika Serikat. Namun begitu, munculnya nama Trump dalam dokumen yang beredar saat ini tidak secara langsung menjelaskan hubungan atau keterlibatannya dalam jaringan Epstein.
Dalam pertemuan antara Trump dan Pam Bondi, disebut pula bahwa ada beberapa nama tokoh penting lain yang dibahas. Meski demikian, tim penyelidik tidak menemukan daftar klien yang sahih atau bukti kuat yang membantah bahwa Epstein meninggal karena bunuh diri.
Sumber internal dari Departemen Kehakiman menyatakan bahwa sebagian dokumen yang ditinjau tampaknya berisi klaim tidak berdasar, termasuk yang menyebutkan nama Trump. Bahkan, beberapa bagian dokumen dianggap tidak kredibel oleh penyelidik.
Hingga saat ini, belum jelas dalam konteks apa nama Trump muncul dalam berkas-berkas tersebut. Tidak ada informasi mendetail yang mengaitkannya secara langsung dengan kegiatan ilegal Epstein. Namun, Trump tetap menilai bahwa penyebutan namanya adalah bagian dari taktik lawan politiknya, bukan bagian dari fakta hukum yang akurat.