Beritagosip.com – Shell Indonesia tengah menghadapi situasi sulit akibat kelangkaan beberapa jenis BBM. Penyebab utamanya adalah stok bahan bakar yang menipis serta penghentian impor.
Baru-baru ini, viral di media sosial curhatan petugas SPBU Shell. Akun Instagram @jadisales.id membagikan unggahan dengan pesan, “Ini kita sudah terakhir, Pak, yang lain sudah pada di-layoff. Stock impor sudah enggak akan ada lagi sampai tahun depan. Kalau stock yang di terminal penyimpanan habis, selesai sudah.”
Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus pakar bahan bakar, Prof. Tri Yuswidjajanto Zaenuri, mengungkapkan bahwa sementara ini Shell masih membeli bahan bakar melalui Singapura.
Menurutnya, kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang tidak lagi mengizinkan impor bahan bakar dan minyak mentah dari Singapura berdampak besar. “Mungkin karena itu, karena memutuskan untuk tidak mengimpor lagi lewat Singapura,” ujar Yuswidjajanto.
Ia menambahkan, kilang Shell di Singapura telah diakuisisi PT Chandra Asri Pacific Tbk. Produk naphtha kini digunakan sebagai bahan baku industri petrokimia. Di sisi lain, SPBU Shell di Indonesia sudah dijual ke pihak lain yang masih memiliki izin impor.
“Kalau izin impornya habis, ya sudah berarti. Kecuali mungkin kalau dia tidak mengimpor dari Singapura. Makanya, sama Menteri ESDM kan disarankan, sudah beli saja dari Pertamina,” jelas Yuswidjajanto.
Ia menilai, bahan bakar Pertamina masih bisa diformulasi ulang dengan tambahan aditif. Dengan begitu, produk bisa berbeda meski sumbernya dari Pertamina.
Namun, hingga kini Shell belum memutuskan untuk mengambil pasokan dari Pertamina. “Setahu saya, itu aditifnya dari merek yang sama, cuma dosisnya beda,” tambahnya.
Saat ini, hampir semua SPBU Shell hanya menjual bahan bakar diesel. Stok V-Power dan V-Power Nitro+ sudah habis di Jakarta. Sementara BBM jenis Super masih tersedia di beberapa SPBU.
Nasib Shell Indonesia kini menjadi sorotan. Stok BBM menipis, impor terhenti, dan pilihan kerja sama dengan Pertamina belum diambil.